pikiran bawah sadar

Akhir minggu lalu mas Karso ngobrol ngalor-ngidul dengan teman dari
jauh.... Tentang SYUKUR
Diujung diskusi khas pinggir gang itu... ada satu pertanyaan

"Emang apa bedanya Syukur dan Pasrah?"

Sehingga memaksa mas Karso buka-buka ilmu yang disebut etimology
digabung dengan gathuk mathuk khas Solo....
1. Gratitude = Grateful + Attitude
.... PERILAKU SELALU BERTERIMAKASIH itu bukan sekedar mengucapkan
terimakasih. ...
Ini tentang perilaku....
Dari kamus: Grateful: berterimakasih, Gratify: memuaskan, memenuhi,
2. SYUKUR dalam sebuah kitab kuning yang menjadi kajian pondok pesantren
Artinya: pujian, kepenuhan dan kelebatan
berarti kuda yang gemuk walaupun sedikit rumput
berarti tumbuhan yang subur walau tiada hujan

Sehingga "Bersyukur adalah perilaku yang merasa puas / bahagia dengan
yang sedikit maka ia akan mendapat banyak / subur"

Ternyata syukur bukan sekedar di Lidah...tapi
Syukur mencakup 3 sisi:
1. Syukur dengan HATI - kepuasan batin atas anugerah
2. Syukur dengan LIDAH - mengakui anugerah dan memuji pemberinya
3. Syukur dengan PERBUATAN - memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai
dengan tujuan penganugerahannya.

Sehingga SYUKUR adalah two in one dengan SABAR.
Tidak ada kesabaran tanpa pribadi syukur dan tidak ada syukur tanpa
pribadi yang penuh sabar.

Dan Sabar berarti MENAHAN diri ... termasuk menahan diri dari menyerah.

Jadi SYUKUR jauh dari PASRAH apalagi MENYERAH....

Demikian mudah-mudahan dipahami mas....

Demikian mas Karso "nyerocos" sampai ngos-ngosan ... lalu ditutup
menyeruput wedang teh jahe yang hangat menyegarkan.

Tapi apa bener begitu yah.... Bagaimana menurut anda?

Salam Good Vibes

Supriyadi

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu inipun tiba....", gumamku dalam hati..., sambil memungut koran pagi di teras rumah yang diantarkan bocah loper langganan kami setiap paginya. Yaaa....karena pada hari ini ada sesuatu yang sangat spesial yang kami berdua tunggu-tunggu.

"Pah, kita berangkatnya jam setengah sembilan aja yaaa" ujar istriku disela-sela kesibukannya menyuapi putra bungsu kami yang masih berusia 5 tahun.
"ngapain ... ??? koq pagi amat... khan katanya kumpulnya jam sebelas..." tanyaku keheranan sambil melipat koran pagiku.
"Justru itu... supaya nggak telat..., biasanya hari minggu begini di Puncak macet lhooo....," sahutnya lagi dengan lembut
"... Dwi aja mau berangkat jam delapan dari rumah, tapi katanya sihhh... mau mampir ketempat Momo dulu, baru dari sana berangkat bareng-bareng ke Ponyo..." sambungnya lagi dengan bersemangat. Tadinya aku masih ingin mengatakan bahwa perjalanan dari Depok ke Restoran Ponyo di kawasan Puncak yang asri itu tidak sampai memakan waktu dua jam, tapi melihat ekspresinya yang sangat bersemangat, kuurungkan niatku. Lagipula dari kemarin dia memang sudah tidak sabar untuk segera bisa bertemu dengan para alumni SC apalagi rencananya kita semua juga akan ketemu dengan Pak Adi, Pak Aries dan Bu Ely.... wwoooowwww.. .....
"... oke dehh, tapi jam sembilan aja yaa yaang....." pintaku sambil bersiap menuju kamar mandi.

Memang selepas kami berdua ikut SC BaMM pada bulan Maret 2008 yang lalu, rasanya selalu ingin bisa berkumpul dengan para alumni SC yang lain, karena setiap kali berdekatan dengan mereka , kami berdua merasakan energi yang lembut, hangat and so friendly yang mereka pancarkan, juga energi kedamaian yang begitu nyaman yang dipancarkan oleh Pak Syahsyam, apalagi energi yang dipancarkan oleh Pak Adi, Pak Aries atau Bu Ely.... wuaahhhh luar biasa kuatnya.

Pada saat pertama kali merasakan sensasi energi ini, yaitu ketika gatehering SC yang pertama di kantornya Pak Tito, dimana saat itu aku merasakan perasaan yang sangat damai dan nyaman ketika berdekatan dengan Pak Syahsyam, maupun perasaan yang tidak enak ketika Pak Rahman menceritakan sesuatu yang agak "seyem-seyem", (beberapa peserta gathering pun merasakan hal ini termasuk Bu Retno Arifin-my dearest wife-), awalnya aku dan istri merasa ini hanyalah imajinasi kami belaka-karena hal ini tidak pernah alami sebelum kami ikut SC-, tapi ketika kami bertemu lagi dengan Pak Adi dan Bu Ely di Hotel Santika (ketika acara workshop TSOM-Gramedia) , dimana kami lagi-lagi merasakan energi positip yang sangat kuat sekali ketika berdekatan dengan beliau berdua.... !!! , kami menjadi yakin bahwa energi itu (baik positip maupun negatip) memang mengalir dan saling mempengaruhi. Semua orang bisa merasakan energi ini hanya mungkin saja kita tidak menyadarinya bahkan mengabaikannya karena ketidak tahuan kita tentang hal ini.

Akhirnya pukul 09.15 kami berdua ditemani supir berangkat menuju ke restoran Ponyo yang menjadi lokasi berkumpulnya para alumni SC sebelum bertemu dengan Pak Adi, Pak Aries dan Bu Ely yang rencananya dijadwalkan jam dua siang.
Setelah setengah jam menempuh perjalanan, tibalah kita di kawasan Cibinong.
"Mah..., telpon Dwi dong..." pintaku begitu mobil mulai memasuki gerbang tol Cibinong
"tanyain udah sampe mana...., terus tanya juga di Cipayung macet apa nggak...., kalau macet khan kita bisa lewat sentul selatan" ujarku lagi sambil merubah chanel radio ke saluran radio Elshinta untuk mendengarkan laporan arus lalu lintas.
Tidak berapa lama, terdengar percakapan istriku di HP Nokia N-82 nya dengan seseorang yang dari pembicaraannya kelihatannya teman bicaranya adalah Dwi.
"Ohh yaa pah, Dwi baru aja keluar dari gerbang tol Ciawi...., jadi belum tau di Cipayung macet apa nggak" sahutnya selepas menutup pembicaraan di HPnya.
"tapi dia bilang sihhh... nggak usah kuatir... , karena dia bareng dengan dua orang "suhu" yang lagi "Trance", Pak Syahsyam dan Momo. Energi "positip thinking" dua suhu ini pasti akan membuat jalanan jadi lancar...., kata Dwi sihhh gitu...." ujarnya lagi.

Tak berapa lama kamipun sampai di pintu keluar tol Ciawi, dan pada saat yang bersamaan terdengar di radio mobil kami, suara penyiar Elshinta sedang menyampaikan laporan kepada seorang petugas dari kepolisian Bogor, bahwa menurut seorang pendengar Elshinta yang sedang menuju kawasan Puncak, telah terjadi kemacetan di pertigaan Mega Mendung.
"betul mbak Regina..." terdengar suara petugas dari kepolisian Bogor itu mencoba menjelaskan.
"memang tadinya terjadi antrian yang cukup panjang di pertigaan Mega Mendung, untuk itu sejak setengah jam yang lalu sudah kita berlakukan buka tutup, dimana saat ini arus yang dari Jakarta menuju Puncak sudah kita berlakukan satu arah untuk mendorong segera arus dari bawah keatas" ujarnya.
"Jadi arus yang dari Jakarta menuju Puncak saat ini cukup lancar yaa... pak"
tegas penyiar yang bernama Regina ini lagi.
"Benar sekali..., saat ini arus lalu lintas yang keatas relatif lancar" sahut petugas itu mengiyakan.

Benar sekali !!!. itulah kata-kata pak Polisi tadi. Dan memang benar sekali, karena Ketika selepas pintu tol Ciawi, kami belok kekiri mengambil jalur yang menuju Puncak, arus lalu lintas begitu lancar. Dilampu merah pertigaan Gadog yang biasanya terjadi antrian yang cukup panjang, terkesan begitu lengang. Bahkan pertigaan Mega Mendung dan kawasan Cisarua yang selalu menjadi simpul-simpul kemacetan di hari libur, saat itu benar-benar lancar.... !!! Fantastic ........!!!
Melihat hal ini, kontan aku teringat pembicaraan dengan istriku tadi, ketika aku memintanya bertanya kepada Dwi tentang arus lalu lintas dikawasan Cipayung, macet atau tidak !!!???.
"kenapa sihh..., koq aku masih saja terbawa dengan pola pikir lama, yang kadang-kadang tetap saja berpikir negatip. Kenapa masih harus takut dengan kemacetan !!!??" bisikku dalam hati.
"Kenapa aku tidak bisa seperti kedua orang "suhu" yang disebut-sebut Dwi tadi, yang aku yakini pasti selalu berpikir positip, sehingga selalu menarik hal-hal yang positip pula kedalam diri dan hidup mereka" sesal batinku lagi.

Dalam hal lancarnya arus lintas yang kami alami ini, mungkin banyak orang berpendapat : "Yaaa... memang kebetulan saja pada saat kita lewat di kawasan itu, pas sedang diberlakukan jalur satu arah, wajar-wajar saja dong kalau arus lalu lintasnya menjadi lancar". Tapi menurut kami berdua, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya akan tejadi sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Itulah dahsyatnya kekuatan energi positip yang bersumber dari pikiran yang positip yang dipandu oleh hati yang positip (baca : Bersih).
Kini, Kami semakin meyakini itu .... !!!

Karena lancarnya arus lalu lintas, tidak berapa lama tibalah kami ditempat yang dituju. Dari halaman parkir mobil sudah terlihat rombongan kaus hitam-hitam "I am A Money Magnet" di meja depan restoran itu. Ternyata banyak juga yang sudah datang. Terlihat bung Rizal yang sedang sibuk jeprat-jepret kameranya dan Dwi yang begitu asyiknya bercengkrama dengan Momo. Ada pula Bung Andre dengan penampilan "flamboyan" nya sedang terlibat pembicaraan serius dengan Pak Prasetyo yang datang bersama pasangan yang memang
"tidak kebetulan"
menjadi istrinya, yaitu Ibu Aloysia. Ada Pak Rahman yang semakin cerah saja wajahnya dan Pak Syahsyam Susilo yang selalu menebarkan aura kedamaian ke sekelilingnya. Terlihat pula Ibu Winda "Syukur" Wijaya yang membawa serta suami dan putera tercinta. Luar biasa.... !!!, benar-benar pertemuan yang membahagiakan dan patut di syukuri. Terima kasih Tuhan, atas segala karunia ini. Amin ...

Ketika makanan dan minuman yang telah kami masing-masing pesan, mulai berdatangan, tiba-tiba muncul Pak Surya dengan senyuman khasnya dan langsung bergabung. Dan yang hebatnya adalah, pada saat kami ingin membayar makanan kami tersebut (karena kesepakatannya memang bayarnya masing-masing) , tiba-tiba Pak Surya berkata :
"Biar saya saja yang bayar semuanya" katanya dengan mantap.
Padahal Pak surya hanya pesan karedok lho... (mungkin sedang diet). Wahhhh... tau begini, kita pesan yang banyak aja yaaa... (he...he...he. ..). Terima kasih banyak yaaa Pak Surya......, sering-sering kumpul dengan kita-kita yaaaa......

Tepat pukul dua siang, kami semua mulai beranjak meninggalkan Restoran Ponyo dengan wajah semringah menuju Via Renata yang selalu menjadi tempat diselenggarakannya SC "Becoming a Money Magnet" untuk group Jakarta.
Ketika kami tiba di tempat diselenggarakannya SC, ternyata kegiatan SC baru akan memasuki sesi "Forgiveness" . Agar tidak mengganggu, kami semua berkumpul di beranda di lantai 2 yang letaknya persis didepan ruangan tempat berlangsungnya kegiatan SC BaMM tersebut. Tak lama kemudian lamat-lamat terdengar suara Pak Adi sedang memandu seluruh peserta menjalani sesi "Forgiveness". Ketika sesi ini telah berjalan beberapa menit dan sayup-sayup terdengar suara Charles Hutagalung melantunkan lagu "Ayah", kami mulai mendengar suara tangisan dari dalam ruangan dan langsung pikiranku menerawang ke November 2007 yang lalu, pada saat pertama kali mengikuti SC. Dimana di sesi ini aku juga menangis sejadi-jadinya untuk menumpahkan segala perasaan yang campur aduk yang berkecamuk di dadaku pada saat itu.
Namun setelah itu, diakhir sesi, aku benar-benar mendapatkan pencerahan yang luar biasa yang selanjutnya memberikan perubahan besar pada sikap, perilaku maupun kehidupanku secara keseluruhan. Pada sesi "Forgiveness" inilah aku benar-benar bisa merasa lepas dan bebas dari himpitan emosi yang begitu negatip yang telah puluhan tahun mencengkeram diri ini, yaitu perasaan marah maupun bersalah yang begitu dalam. Di sesi inilah aku betul-betul bisa merasa dimaafkan maupun memaafkan secara tulus orang-orang yang sebenarnya mencintaiku, Ayah dan Ibu yang sudah tiada maupun istri dan anak-anak, serta yang paling penting menurutku adalah aku telah bisa dimaafkan oleh diriku sendiri maupun memaafkan diriku sendiri.

Untuk teman-teman yang baru saja selesai mengikuti SC yang katanya terakhir ini, dan mengalami "sesuatu" pada saat mengikutui sesi "Forgiveness", dimana anda merasa seperti terbebas dari himpitan batu yang begitu besar, berarti
ada sesuatu yang terjadi dengan "subconscious" anda. Yakinlah bahwa hal ini pasti akan membawa perubahan pada diri dan hidup anda cepat atau lambat. Itu pasti akan bekerja !!!.
Jaga dan tingkatkan terus perubahan yang terjadi ini, dengan saling berhubungan dengan para alumni SC yang lain melalui Gathering ataupun dengan bergabung di milis ini.

Selesai sesi "Forgiveness" , kami semuapun masuk ke ruangan dan seketika suasanapun menjadi mengharu biru, ada perasaan bahagia, sedih dan haru menjadi satu. Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Pada kesempatan itu, seluruh alumni yang hadir pada saat itu menyampaikan rasa terima kasih yang sangat dalam buat Pak Adi & Bu Stephany, Pak Aries, Bu Ely, Pak Sasmita, Pak Hindra beserta seluruh jajarannya dari Aquarius serta semua yang terlibat dalam pelaksanaan SC BaMM. Karena workshop SC BaMM ini telah begitu merubah hidup teman-teman semua. Kami juga menyampaikan harapan, bahwa akan tetap ada pelatihan yang sejenis sebagai pengganti SC ini, yang akan diberikan oleh Pak Adi maupun Pak Aries, sehingga akan lebih banyak lagi orang yang akan tercerahkan hidupnya. Selanjutnya, kami semuapun, satu persatu menyampaikan sekedar "testimony" singkat kepada semua peserta SC yang baru saja menyelesaikan seluruh kegiatannya. Dimana pada intinya semua pesan yang disampaikan hampir sama, yaitu "Yakin dengan segala apa yang diajarkan dan diberikan selama di SC dan konsisten mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, maka perubahan kearah yang lebih baik pasti akan terjadi".
Yakin - Syukur - Pasrah

Akhirnya waktu jualah yang harus memisahkan kita, sekitar pukul empat sore, kamipun bersiap-siap kembali ke rumah kami masing-masing.
"Ehh Wi...." cepet yuukkk..., ikutin rombongannya Pak Adi dan Pak Aries...., jalanannya dijamin lancar ...." ujarku kepada Dwi, ketika melihat mobil yang membawa rombongan Pak Adi dan Pak Aries mulai beringsut meninggalkan Via Renata.
"Ohh ..iyaa, bener...., energi beliau berdua pastinya dahsyat banget, dan pasti bikin jalanan lancar.... " sahut Dwi, menimpali ajakanku dengan bersemangat.
"So pasti itu....." sahut istriku ikut-ikutan nimbrung.
"Soalnya udah dua kali dibuktiin" ujarnya lagi.
Memang pada setiap selesai mengikuti acara SC yang lalu, sudah dua kali kami pulang dibelakang rombongannya Pak Adi & Pak Aries, dan selalu saja arus lalu lintas yang menuju Jakarta sangat lancar, karena begitu keluar dari Via Renata arus lalu lintasnya sudah satu arah sampai ke jalan yang menuju gerbang tol Jagorawi.

Dan ternyata sekarangpun, begitu keluar dari gerbang Via Renata, arus lalu lintasnya lagi-lagi sudah satu arah dan ternyata juga sampai ke pintu tol Jagorawi. Padahal, supir kami baru saja bilang bahwa dia dapat cerita dari supir yang baru sampai di Via Renata, yang akan menjemput salah satu peserta SC, bahwa arus lalu lintas dari Puncak yang menuju Jakarta macet sekali dan antriannya sangat panjang.
Begitu juga percakapan yang kami dengar di radio, antara penyiar Elshinta dengan seorang petugas Polisi, yang menjelaskan bahwa alasan cukup lamanya diberlakukan arus satu arah dari Puncak menuju Jakarta, karena antrian kendaraan yang turun ke Jakarta sudah sampai di perbatasan Cianjur ..... !!!???, So, apakah ini masih mau disebut sebuah kebetulan .... !!!???.
Kami yakin sekali bahwa energi kebaikan Pak Adi, Pak Aries, Bu Ely dan semua yang terlibat di SC ini begitu tulusnya, sehingga Tuhan beserta alam semesta merespon itu semua dengan kebaikan yang berlipat-lipat dan memudahkan semua urusan mereka. Yakinlah itu...., karena kita semuapun bisa mewujudkan itu !!!. Sukses dan bahagia selalu

PS : Sorry, kalau kepanjangan dan bergaya cerpenis
Soalnya Ketularan Bu Agnes Jessica ... He...he...he. ...



Salam Berkelimpahan,

Johan-SC X

By Purnomo Hadi

Mindset & Lifestyle : Living at Present

Secara umum kita memahami bahwa terdapat 3 wilayah waktu, yaitu : masa lalu, masa kini, dan ,masa datang. Deepak Choppra, salah satu guru spiritual moderen yang banyak memberikan pengaruh terhadap pemikiran-pemikiran saya, menggambarkannya dengan kata-kata yang sangat romantis : The Past is History, The Future is Mistery ….!

“The Past is History” mungkin agak mudah kita pahami, yaitu bahwa masa silam adalah sekedar sebuah sejarah …. tidak akan pernah kembali … tidak akan pernah terulang …! Dan uniknya, walaupun kita telah memahaminya dengan baik, tetapi sangat sulit umumnya bagi kita untuk mengimplementasikannya, apalagi untuk menjadikannya sebagai “presupposition” yang harus kita “install”-kan ke diri kita dengan berbagai konsekwensi yang menyertainya ….!

“The Future is Mistery”, suatu kalimat yang mudah untuk diterjemahkan, akan tetapi sangat sulit dipahami filosofinya, apalagi untuk diimplementasikan. Nah, pemahaman terhadap pengertian bahwa “masa datang adalah misteri”, justru merupakan salah satu kunci dari LoA.

Dari pernyataan sekaligus fakta bahwa “The Past is History” dan “The Future is Mistery”, maka karunia sesungguhnya atau karunia yang benar-benar riel adalah “saat ini dan disini” ! Kehidupan yang sesungguhnya bukan di kemarin atau di besok, tetapi benar-benar ada di “saat ini dan disini” ! Kemampuan kita untuk menghayati hal ini merupakan kunci penting lainnya dari LoA.

***

Kemampuan merasakan “saat ini dan disini” atau “Living at Present” merupakan kemampuan yang akan membimbing kita untuk menghayati rasa syukur dari apa-apa yang telah kita “miliki”, dan juga merupakan kemampuan yang akan memandu kita untuk membaca tanda-tanda alam semesta terkait dengan berbagai empowerment yang telah kita “lontar”-kan ke alam semesta ! Living at Present akan membuat kita menjadi “waskita” untuk menyaksikan rentetan kejadian yang selalu berada dalam skenario penciptaan kita (sadar atau tidak sadar) !

***

Mari kita sekedar melakukan evaluasi ……. seberapa sering kita berada di “saat ini di sini” ? Atau sebaliknya, seberapa sering kita justru berada di “masa lalu” atau justru di “masa datang” !

Sebagai ilustrasi, misalkan saya bersantai di sebuah kedai kopi, untuk sekedar menikmati “Double Expresso” ……! Lalu kemungkinan saya akan menikmati kopi tersebut sambil :

Pertama : Memikirkan masa depan saya yang tidak jelas, memikirkan bahwa saya belum memiliki simpanan yang cukup untuk bekal menyekolahkan anak saya di perguruan tinggi terbaik pada 6 tahun mendatang ! Atau mungkin dengan sedikit kreativitas, maka saya dengan mudah membayangkan bahwa 15 tahun lagi saya mungkin sudah tidak dapat lagi bekerja, dan tentu saja saya tidak memiliki pensiun, karena bahkan pekerjaan saya hari inipun jauh dari jelas ?

Kedua : Saya membayangkan, jika saja pada tahun 1996 atau tahun 2002 saya tidak melakukan kebodohan dalam bisnis, tentu kehidupan saya sudah sangat mendekati mimpi-mimpi di masa muda saya ? Atau lebih jauh lagi, saya berandai-andai jika dulu saya tidak berhenti bekerja dari perusahaan “X”, maka mungkin hari ini saya sudah menjadi CEO dengan berbagai fasilitas dan gaya hidup papan atas ?

He … he … yang manapun yang saya pilih …. sudah pasti “Double Expresso” yang seharusnya nikmat itu menjadi terkontaminasi dengan emosi negatif saya ……!

Kenapa saya tidak dapat menikmati “Double Expresso” tersebut dengan kesadaran “saat ini dan disini”, serta kesadaran bahwa saya masih diberikan kesempatan untuk bernafas, diberikan sedikit uang untuk membeli “Double Expresso” tersebut ? Atau jika lebih kreatif lagi saya mungkin dapat menikmati bahwa saat ini saya adalah orang yang “bebas & merdeka” ala pak Marhaen ! Saya masih diberikan kesehatan yang sangat baik ? Saya memiliki keluarga yang lengkap, sepasang anak yang normal dan pintar ? Dan masih ribuan karunia luar biasa lainnya ??!

Kenapa saya justru memikirkan “masa datang” yang tidak pernah ada ?! Ya benar-benar tidak pernah ada ! Dia benar-benar hanya merupakan karya dari pikiran saya saat ini ! Bahkan faktanya saya tidak akan pernah benar-benar “mengetahui” apakah besok saya masih hidup ? Apakah lusa saya masih dapat bernafas ? Se-ekstrim apapun bayangan masa depan …. benar-benar hanyalah karya dari mahluk yang dinamakan “pikiran” ! Masa depan tidak pernah benar-benar ada, sampai dengan kita berada di sana !

Atau saya justru memikirkan “masa silam” yang benar-benar tidak akan pernah kembali bagaimanapun kita mengupayakannya ?

***

Bersambung di Halaman yang sama ………

By: Yan Nurindra

Ringkasan Artikel Sebelumnya :

C.R.A.F.T. merupakan salah satu teknik sederhana untuk merubah Self-Image sehingga mencapai tahap kompetensi tertinggi, yaitu “Tidak Sadar Mampu” atau “Sub-Conscious Competence”. C.R.A.F.T. merupakan akronim dari Cancel, Replace, Affirm, dan Training, dimana teknik ini walaupun sederhana, tetapi memiliki efektifitas yang bagus, dengan catatan bahwa Self-Image yang ingin dicapai benar-benar didukung oleh konsep dan pengertian yang baik.

***

Sebelum dilanjutkan dengan penjelasan detail dari CRAFT, maka terlebih dahulu kita akan “melompat” sejenak ke pembahasan mengenai pilar ke-3, yaitu : “Mindset & Life Style”. Kenapa ? Karena salah satu efektivitas CRAFT atau berbagai metode “programming” yang ada sebenarnya sangat tergantung dari seberapa “perlu” dan seberapa “mendesak” program tersebut bagi kita ? Jadi sekali lagi, seringkali yang salah bukanlah metode-nya, tetapi justru program-nya tidak memiliki relevansi yang “dekat” dengan kebutuhan kita !

Maksudnya ? Sebagai contoh, saya rasa kita semua sepakat bahwa “tekun” adalah salah satu sifat yang positif, yang pasti sangat berguna untuk situasi & kondisi apapun juga ! Tetapi mengapa kita semua tidak secara otomatis berusaha menjadikan “tekun” sebagai salah satu sifat dasar atau “Self-Image” kita ? Ya ! Karena tidak setiap kita secara langsung dapat menghubungkan “tekun” dengan hasil yang kita harapkan ! Meminjam istilah “NAC”, sifat “tidak tekun” tidak terhubung langsung dengan “kepedihan”, padahal pada umumnya kita sangat mudah terpacu jika sesuatu itu langsung terkait dengan “kepedihan” kita !

***

Sebagai contoh, secara umum pria Indonesia yang berumur sekitar 30 tahun secara “UnConscious” punya keinginan yang amat sangat kuat untuk memiliki rumah sendiri, dalam arti kata rumah yang dimiliki atas nama sendiri, soal bahwa itu adalah rumah via KPR dengan masa 40 tahun adalah soal nanti ! Kenapa ? Karena rumah adalah salah satu “lambang” penting bagi orang Indonesia. Mungkin ini salah satu efek akibat adanya istilah “rumah-tangga” dalam kultur bahasa Indonesia. Berjuta alasan dapat diungkapkan betapa perlunya “rumah” bagi orang Indonesia. Bahkan biarpun “nyelip” di ujung dunia, rasanya masih lebih “nyaman” dan “terhormat” dibandingkan tinggal di kawasan menteng, tetapi dalam status “kontrak” ?!

Dan uniknya, karena ini de-facto sudah menjadi suatu “keharusan”, maka “LoA” umumnya dapat bekerja mudahnya untuk urusan satu ini ! Mulai dari mendapat fasilitas pinjaman kantor untuk DP, sampai dengan ketemu iklan rumah dengan DP 0%, dll. Saya yakin bahwa para pembaca portal ini dapat menceritakan berbagai “kejaiban” saat mewujudkan sang “rumah” impian masing-masing !

Kenapa ? Mungkin status “tidak punya rumah” benar-benar terelasi dengan suatu “kepedihan” kultural & sosial bagi sebagian besar kita !

Tetapi anehnya, memiliki kendaraan dan deposito tetap saja sulit ? Kenapa ya ? Oleh karena itu, mungkin dapat kita usulkan saja untuk mengganti istilah “Rumah-Tangga” dengan “Rumah-Mobil-Deposito-Tangga”, sehingga “LoA”-pun dapat bekerja secara lebih mudah untuk itu ?!

Maaf, ilustrasi di atas bukan bermaksud men-generalisir, melainkan benar-benar hanya sebuah contoh yang mungkin sangat umum bagi kultur kita. Pesan moralnya adalah bahwa sesuatu yang telah menjelma menjadi “keharusan”, maka akan lebih mudah di-programkan ke diri kita !

***

Nah, kaitannya dengan Self-Image dan CRAFT apa ya ?

Kaitannya adalah bagaimana merancang Self-Image yang kira-kira bagus dan perlu, terutama untuk me-“LoA”, serta beraroma menjadi suatu “keharusan” bagi diri kita ? Karena jika sudah menjadi “keharusan”, maka tentunya programming-nya akan menjadi relatif lebih mudah ?!

Sekali lagi ini bukanlah sesuatu yang mudah ! Bahkan ini adalah salah satu “kunci” ! Oleh karena itu saya akan segera “melompat” sejenak untuk memaparkan pilar ke-3, agar kita dapat melakukan beberapa “reframing” yang bermanfaat untuk menyusun “Self-Image” yang dimaksud !

***

Pilar Ke-3 : Mindset & Lifestyle

Mindset & Lifestyle yang dimaksudkan disini adalah beberapa pola pikir dan gaya-hidup yang mungkin dapat dipertimbangkan dalam rangka untuk memasuki “gaya hidup LoA”.

Beberapa Mindset & Lifestyle berikut ini mungkin akan bersifat “overlapping”, karena sebenarnya menjelaskan teritori yang sama, akan tetapi dari sudut pandang yang berbeda !

Oke, kita mulai mengurai masing-masing dari Pilar Ke-3 ini.

***

Mindset & Life Style : “Awareness”

Agak sulit untuk menterjemahkan Awareness dalam Bahasa Indonesia, karena kata ini memiliki makna yang sangat dalam dari sekedar suatu “kesadaran”. Dalam bahasa jawa dan sunda terdapat istilah yang hampir mirip, yaitu “eling” ! Mungkin boleh kita anggap sementara ini “Awareness” adalah “Kesadaran Diri Setiap Saat” !

Saya pribadi menempatkan “Awareness” sebagai salah satu “kunci kesaktian” manusia yang amat sangat penting !

Pernahkah kita mendengar kalimat klasik semacam ini :

“Wah ….. kok tiba-tiba rambut gue jadi banyak ubannya nih !”
“Gile … gue sekarang kalau naik tangga ngos-ngosan !”

Aneh ya ? Hampir setiap hari kita bercermin, tetapi kok tiba-tiba baru hari ini sang “uban” baru terlihat ? Apakah sang “uban” ini tiba-tiba muncul ? Tentu tidak ! Apakah mungkin cerminnya rusak, sehingga baru dapat menampilkan sang “uban” hari ini ? Tentu juga tidak ! Lah terus gimana ? Faktanya baru hari ini kita “tersadarkan” bahwa rambut kita mulai ber-uban ?

Ya ini adalah penjelasan sederhana mengenai “Awareness” ! Pada dasarnya tidak ada satupun yang berlangsung tiba-tiba dalam diri kita atau dalam hidup kita ! Menjadi tua, menjadi sakit, menjadi miskin, menjadi kaya, semuanya tidak pernah berlangsung “tiba-tiba” ! Semuanya berlangsung secara “kontinyu” …. tetapi kita sering membuatnya menjadi “garis putus-putus” dengan tidak bekerjanya “awareness” secara sempurna !

***

Pernahkah kita “aware” terhadap perubahan yang terjadi di setiap milimeter persegi tubuh kita pada setiap pagi ketika kita mandi ? Jangan-jangan kita di suatu hari nanti terkaget-kaget … “Loh kok perut saya sekarang jadi buncit ?”.

Pernahkah kita “aware” berapa lembar rambut kita yang rontok atau berubah warna setiap kali kita bercermin ? Jangan-jangan kita di suatu hari nanti terkaget-kaget … “Loh kok saya sudah botak ya ?”.

Pernahkan kita “aware” terhadap gerakan emosi kita sendiri ketika kita mengalami “kejadian baik” maupun “kejadian buruk” ? Jangan-jangan suatu hari ini kita mengatakan : “Saya kok sekarang gampang sedih ya ? Padahal dulu selagi muda saya adalah orang yang periang !”.

Pernahkan kita “aware” bagaimana kisah sukses dan gagal tercipta dalam setiap hari kehidupan kita ? Jangan-jangan kita suatu hari merenungi dan berkata “Sekarang kok saya sial melulu ya ? Padahal dulu saya selalu memperoleh apa yang saya inginkan !”

Pernahkan kita “aware” seberapa penurunan yang terjadi pada kemampuan kita berjalan kaki setiap hari ? Jangan-jangan kita suatu hari merenungi dan berkata “Sekarang kok saya jalan kaki 1 jam saja lutut saya sudah gemetar ya ?”

***

Awareness membuat kita tidak pernah “kehilangan” apapun juga ! Sebaliknya “kehilangan” adalah pertanda bahwa kita lepas dari “kontinuitas” hidup kita sendiri akibat tidak ada atau berkurangnya “Awareness” !

Pernahkah kita “aware” terhadap makanan yang kita santap di suatu siang hari dalam hidup kita ? Apakah kita “aware” bahwa ada petani yang telah bersusah payah untuk menanam padi untuk nasi yang kita makan ? Bahwa ada pedagang sayuran keliling yang telah berjasa untuk mendistribusikan sayuran yang sekarang kita santap ? Bahwa ada seekor ikan yang dikorbankan hidupnya agar menjadi lauk kita ?

Awareness adalah kesadaran setiap saat di segenap aspek kehidupan yang kita jalani ! Awareness akan membimbing kita untuk menyadari apa yang kita miliki ! Awareness akan membimbing kita untuk memelihara yang kita miliki ! Bahkan Awareness dapat membimbing kita untuk dapat memiliki apa-apa yang kini belum kita miliki ! Dan yang jelas …. Awareness akan membimbing ke rasa syukur ! Dan rasa syukur akan menarik rasa syukur yang lebih besar lagi ! The Law of Attraction !

***

Hukum Ketertarikan telah dan selalu bekerja ! Tetapi hanya dengan “Awareness” kita dapat membaca “keajaiban” yang ditunjukkan oleh alam semesta bagi kita !

Jadi ….. apakah “Awareness” cukup pantas untuk kita jadikan sebagai salah satu “keharusan” bagi diri kita ?

Misal dengan menjadikannya sebagai salah satu program bagi “Self-Image” kita :

“Saya adalah pribadi yang sangat sadar dalam setiap detik kehidupan saya ?”
“Saya selalu hadir dalam setiap detik kehidupan saya !”

***

Latihan Awareness :

Perlambat sedikit gerakan kita !
Rasakan setiap detail saat kita mandi, mengenakan baju, bahkan mengenakan tali sepatu !
Rasakan setiap detail pergerakan emosi dalam kegiatan sehari-hari !
Nikmati makan siang dengan sepenuh hati !
Amati siapakah orang yang kita cintai dan siapa pula orang yang kita benci, dan apa yang menyebabkan mereka menjadi orang yang kita cintai dan orang yang kita benci ?
Hayati apakah kita kaya atau miskin, dan apa yang menyebabkan kita merasa kaya atau merasa miskin ?

Bersambung …..

By: Yan Nurindra
Basic Technique Untuk Merubah Self Image

Pada saat ini, ketika “pemberdayaan diri” telah menjadi “bagian hidup” manusia moderen, maka kita dapat mempelajari berbagai teknik untuk melakukan “Programming” dan “De-Programming”, beberapa yang telah dianggap sebagai teknik “de-facto” adalah teknik yang dikembangkan oleh NLP dan Hypnosis.

Sekali lagi saya sangat yakin di portal ini penuh dengan para pakar yang menguasai kedua hal tersebut. Oleh karena itu sebagai wacana tambahan, saya akan perkenalkan teknik yang sangat sederhana yang berasal dari Psychocybernetic, dimana dalam teknik inipun dapat diterapkan juga jurus-jurus NLP dan Hypnosis !

Tetapi sebelum kita membahas teknik sederhana ini, ada baiknya kita merenungkan Self-Image semacam apakah yang paling ideal untuk kita “implant”-kan ke diri kita ? Ini terkait dengan pertanyaan dari Mas Bobby pada artikel sebelum ini.

Pertanyaan ini sangat cerdas dan mendasar ! Karena tidak mudah untuk menjawabnya, bahkan kita akan membahas hal ini lebih jauh lagi di bagian “Mindset & Lifestyle”, karena “jangan-jangan” kita perlu “berhari-hari” untuk mendisain “Self-Image” ideal kita sendiri !

Disain Self-Image terkait dengan Visi & Misi kehidupan kita, atau cita-cita dan keinginan kita, yang tentu sangat berbeda untuk setiap orang, setiap profesi, setiap tingkat pengalaman & pemahaman, dan masih banyak parameter lainnya !

***

Sebagai contoh sederhana …. Jika anda menanyakan apa yang paling diinginkan oleh seorang Mahasiswa yang baru di-wisuda ? Maka hampir dapat dipastikan bahwa jawabannya adalah sekitar “mendapat pekerjaan yang baik” dan “memperoleh gaji besar” ! Ya ! Karena lambang-lambang inilah yang umumnya ada dalam “cipta” dan “karsa” pada tingkatan tersebut !

Jangan mencoba untuk menyatakan : “Apakah anda tidak ingin mencapai kedamaian ?” …… karena bagi mereka yang berusia 25 tahun mungkin belum “memahami” arti dari “kedamaian” ….. mungkin malahan bagi mereka ini ….. jika memiliki banyak uang …. bisa mentraktir sana-sini …. mungkin itu akan sama dengan “damai” ????

Jadi mungkin Self-Image yang perlu dan tepat bagi para wisudawan baru …. adalah “Saya adalah profesional yang sangat cemerlang !” atau “Saya adalah eksekutif muda, pujaan setiap wanita !”.

Ini bukannya men-“generalisasi” …. Tetapi hanya sekedar suatu ilustrasi …. bahwa Self-Image terkait dengan keinginan, dan keinginan terkait dengan tahapan kehidupan !

***

Kedamaian ?? Apaan tuh ? Yang paling paham “damai” itu apa ? Mungkin salah satu-nya adalah saya ! Loh sombong amat ? Bukan …. sama sekali bukan …… tetapi karena sekian belas tahun dalam hidup saya sangat penuh dengan “kesulitan” …. “dikejar hutang” …. “bersaing dengan kolega” ….. “takut dengan masa depan” ……. dan “1001 problema hidup” lainnya ! Jadi saya jadi sangat paham artinya “damai” …….!

Bagi saya …. damai itu salah satunya adalah bisa makan singkong goreng sambil ngopi, tanpa khawatir telpon berbunyi karena ada Debt Collector menagih Kartu Kredit ! Damai yang lain adalah ketika saya bisa “tidur sangat nyenyak”, sejenak melupakan bahwa anak saya tahun ini harus masuk SMP dan uang pangkal masuk SMP yang “agak berkualitas” sekarang ini adalah nyaris 500 kali lipat dari uang SPP saya per-semester ketika kuliah di Surabaya dulu !

Saya sangat paham artinya “tidak damai” …. karena pada tahun 2002 saya pernah membuat suatu perusahaan yang bergerak di bidang Forex, dan hampir setahun lamanya …. bahkan dalam mimpi-mimpi saya-pun yang keluar adalah lambang-lambang USD/JPY, GBP/CHF, CAD/AUD ????? Mungkin kalau saya direkam saat “mengigau” pasti suaranya adalah : “Hoi ….. ayo .. Buy … Sell ….. Order … Hedging ….. ayo cepet taruh 15 lot …… ya … kalah lagi …. gimana sih ?!”

Jadi percayalah …. jika anda juga punya sejarah hidup yang sama “rungsep”-nya seperti saya …., maka sebetulnya anda termasuk orang yang “beruntung” seperti saya juga ….. karena mungkin programming “Saya selalu mengalami kedamaian” adalah sesuatu yang benar-benar dapat kita rasakan .. benar-benar kita inginkan ……. bahkan mungkin melebihi orang lain ……! Dapet banget rasanya gituu boooo …..!

***

Nah dari uraian di atas, maka silakan anda definisikan sendiri “hal-hal apakah” yang benar-benar-benar-benar anda inginkan dalam hidup ini ?? Apakah Visi dan Misi anda ? Silakan transformasikan dalam bentuk sesuatu yang bisa diprogramkan bagi “Self-Image” ! Tetapi jika anda masih bingung …. ya mungkin kita dapat memprogram Self-Image yang umum dan global dulu alias “core”, karena bagaimanapun juga ini akan menjadi “infrastruktur” bagi programming lainnya.

Misal : “Saya selalu dikarunai kemudahan dalam segala hal !” lah … kan umum dan cukup oke kan ? Atau : “Seluruh kebutuhan dan keinginan saya selalu terpenuhi dengan cara yang sangat mudah !” oke juga kan ? Be Creative …..!

***

Metode C.R.A.F.T.

Ini adalah salah satu metode Self-Image Programming yang diperkenalkan oleh teknik Psychocybernetic.

CRAFT adalah suatu sequence 5 langkah atau 5 hal yang dilakukan terus menerus sampai dengan tercapai kompetensi, artinya Self-Image tersebut sudah ter-implant dengan permanen, sudah masuk dalam kategori kompetensi tertinggi, yaitu “tidak sadar bahwa mampu” atau “tidak sadar bahwa sudah memiliki Self-Image baru” !

C = Cancel, R = Replace, A = Affirmation, F = Focus, T = Train.

Jadi misalkan kita ingin memasukkan “Self-Image”, yaitu “Saya adalah pribadi yang sehat !” (maksudnya fisiknya sehat), maka :

C = Cancel

Sejak itu awasilah segenap ucapan, pemikiran, self-talk kita ! Dan jika kita “kebetulan” berucap yang “bertentangan dengan program kita” misal : “Aaaah …. hari ini badan gue sakit banget ….!” atau misal hanya suatu self-talk atau sikap bathin : “Habis mandi air dingin … kok badan agak meriang ya ? Mau sakit nih kali ?”

Nah ! Segera lakukan “Cancellation”, segera ucapkan “batal … batal …. Batal …. nggak jadi ….!”. Walaupun terkesan “main-main”, tetapi sebenarnya kita tengah bermain dengan “awareness” yang luar biasa, bahkan kita dengan sangat sadar membatalkannya agar tidak di-record oleh Sang “Pikiran Bawah Sadar” !

R = Replace

Setelah melakukan pembatalan, segera ucapkan kalimat pengganti (Replace), misal : “Saya dikaruniai Tuhan fisik yang sangat sehat dan sempurna !” atau “Gue sangat sehat-sehat …. hat …. hat …. sehat abiissss !” terserah versi mana yang paling “menyentuh” bathin kita !

A = Affirmation

Sering-seringlah mengucapkan afirmasi yang bertema “sehat”, juga boleh kita mengkoleksi gambar-gambar atau lambang-lambang yang berkaitan dengan “sehat”, karena ini adalah upaya efektif untuk meng-edukasi Pikiran Bawah Sadar yang notabene adalah mahluk lambang atau citra (image) !

F = Focus

Luangkan waktu sekali sehari untuk “Focus”, yaitu melakukan Visualisasi Kreatif, Self-Programming, Self Hypnosis, atau apapun itu. Yang penting kita dapat memasuki teater imajinatif untuk “menghidupkan” apa yang kita inginkan !

T = Train

Entah faktanya kita sudah sehat atau belum sehat ? Tidak penting ! Pada tahapan ini kita “wajib” untuk “bergaya” bahwa seakan-akan kita sudah benar-benar menjadi pribadi yang sehat ! Fisiologis kita harus dibuat sedemikian rupa, sehingga kita “tampak” sehat ! Ini NLP banget ya ! Pada tahapan ini kita “in action” untuk men-“Training” diri kita sendiri !

***

Nah, C.R.A.F.T. ini harus anda lakukan dengan “awareness” yang sangat tinggi ! Untuk itu nanti di bagian “Mindset & Lifestyle” saya akan bahas khusus apakah yang dimaksudkan dengan “Awareness” dalam konteks “LoA” versi saya !

Setiap tema programming membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk mencapai “kompetensi”, tetapi secara umum untuk programming yang moderat, dibutuhkan waktu sekitar 6 minggu untuk mencapai kompetensi ! Dan saat itulah “Servomechanism” anda siap bergerak tanpa dapat dibendung …. untuk membawa anda ke sasaran !! “LoA” dalam konteks tema tersebut akan mulai bekerja untuk anda !

***

Mungkin untuk saat ini metode C.R.A.F.T di atas masih terlalu “global” ya ? Masih belum begitu detail ya ? Oke …. pada artikel berikutnya saya akan mencoba membahas secara lebih detail beserta contoh-contoh dalam kehidupan nyata !

Bersambung …….

By: Yan Nurindra

3 Pilar Dasar

Ketika konsep “LoA” sudah dapat kita terima, maka kini kita mulai dapat memasuki “perjalanan panjang yang indah”, yaitu menumbuhkan kompetensi di berbagai hal dalam diri kita, mulai dari “habitual” “mindset” atau apapun yang diperlukan, agar “LoA” dapat “bekerja” untuk kita ! (Baca : sesuai dengan keinginan kita).

***

Menurut pemahaman dan pengalaman saya, beserta pengalaman dari berbagai pihak yang merasa terbantu dengan prinsip “LoA” (catatan : Saya banyak menangani Client yang khusus ingin di-treatment untuk memasuki gaya hidup “LoA”), akhirnya saya mencoba memberanikan diri untuk menyusun pilar dasar yang diperlukan untuk me-“LoA”, dan saya berharap hal ini dapat memperkaya para pembaca, yang saya yakin sudah sangat banyak yang “canggih” dalam menerapkan “LoA”. Pilar dasar ini ada 3 buah, yaitu : (1). New Paradigm (2). Basic Technique (3). Mindset & Lifesyle.

Saya coba meng-analogikan dengan :

Misalkan ada suatu pendapat, yaitu bahwa dari sebatang pohon yang sangat besar, katanya dapat dibuat berbagai macam furniture dan handycraft yang indah dan berseni. Nah ini saya sebut sebagai “New Paradigm”, yaitu suatu konsep dasar atau semacam presupposition yang dapat kita jadikan sebagai “pegangan” untuk mengetahui apa saja yang mungkin kita capai !

Tetapi konsep dasar ini tidak serta merta akan melahirkan berbagai furniture atau handycraft yang indah. Kita membutuhkan keterampilan dasar, misal : menggergaji, memahat, memaku, mengukir, mengecat, dsb. Ini saya sebut dengan “Basic Technique”, atau semacam infrastruktur.

Selanjutnya untuk mewujudkan furniture dan handycraft yang dimaksud, kita masih harus memiliki berbagai hal, yaitu antara lain : semangat, kesabaran, ketelitian, selera seni, bahkan kita perlu mengembangkan kesehatan dan kebugaran agar kita dapat menggergaji pohon besar tersebut. Tanpa kekuatan dan semangat, mustahil kita dapat menggergaji pohon tersebut. Tanpa ketelitian dan kesabaran, mustahil rasanya kita mengukir sebongkah kayu sehingga menjelma menjadi handycraft yang indah ! Ini saya sebut sebagai “Mindset & Lifestyle”.

Nah, mungkin analogi di atas tidaklah terlalu tepat, akan tetapi saya mencoba untuk menggambarkan perlunya langkah yang bersifat “holistik” dalam segenap hal, termasuk saat kita meng-implementasikan gaya hidup “LoA” ! Ingat kita hidup di dunia yang sangat riel, dimana tangan masih terasa sakit jika dicubit, dan perut tetap merasa lapar jika tidak diisi, juga kita masih sering “kesal” jika terjebak macet di jalan tol !

***

3 Pilar Dasar :

New Paradigm

Pahami dengan baik “paradigma baru” “LoA” yang memandang alam semesta dengan cara yang sedikit berbeda ini. Pastikan bahwa kita tidak memiliki “konflik bathin” terhadap paradigma ini. Jika kita merasa “tidak pas” dengan Paradigma “LoA”, maka tinggalkan dan pilihlah paradigma lain yang lebih dapat memberdayakan kita !

Basic Technique

Untuk mencapai kompetensi “LoA”, akan “amat sangat banyak” proses programming maupun de-programming yang ditujukan untuk merubah “Belief System” dan “Self Image” kita, juga untuk programming berbagai keinginan-keinginan kita (materialisasi), serta untuk memasukkan berbagai mindset baru yang diperlukan. Untuk hal ini silakan pergunakan berbagai teknik pemberdayaan diri yang paling sesuai dan efektif untuk kita, mulai NLP, Hypnosis, Psychocybernetic, atau apapun juga ! Label tidak lagi penting, yang lebih diperlukan adalah efektivitasnya !

Mindset & Lifestyle

“LoA” merupakan paradigma dasar yang dapat dianalogikan seperti halnya “Undang-Undang Dasar”. Untuk membuatnya dapat bekerja dalam tataran kehidupan riel, maka akan sangat banyak “peratuan-peraturan” yang harus dibuat berdasarkan “pokok-pokok pikiran” yang berasal dari “Undang-Undang Dasar” tersebut, dengan prinsip bahwa “peraturan-peraturan” harus mendukung dan tidak boleh bertentangan dengan induknya !

Untuk mempercepat kompetensi agar “LoA” dapat bekerja sesuai dengan keinginan kita, maka mungkin akan sangat banyak Mindset yang harus diubah, dan juga amat sangat banyak “gaya hidup” atau “Lifestyle” yang harus diubah pula !

***

Baiklah kita mulai memasuki detail untuk “memasuki kompetensi” ! Saya tidak akan membahas pilar pertama, karena ini sudah kita sepakati bersama di artikel-artikel awal. Saya akan memulainya dengan Pilar yang kedua, yaitu : Basic Technique.

Basic Technique

Disebut sebagai teknik yang sangat mendasar, karena dengan teknik inilah kita akan melakukan “programming” atau “de-programming” terhadap diri kita. Silakan pilih berbagai teknik yang paling sesuai bagi kita, dan saya yakin disini banyak para pakar yang akan berbaik hati untuk membagikan tips dalam melakukan “programming” dan “de-programming” melalui teknik NLP.

Yang lebih terpenting lagi adalah kita benar-benar memahami dan meyakini apa hal-hal mendasar yang perlu kita “programming” atau kita “de-programming” terlebih dahulu !

Sebagai contoh :

Apakah mungkin kita dapat mewujudkan keinginan : “memiliki mobil Honda Jazz berwarna silver pada akhir tahun 2008.” ????

Jika ternyata “Self-Image” kita masih berisikan program lama, yaitu : “Saya selalu gagal dalam mencapai cita-cita saya !”

Apakah mungkin kita dapat mewujudkan keinginan : “menjadi motivator terkenal Indonesia di akhir tahun 2009”. ???

Jika ternyata “Self-Image” kita masih berisikan program lama, yaitu : “Saya tidak pernah mampu berkomunikasi dengan baik di depan publik !”

Apakah mungkin kita dapat mewujudkan keinginan : “memiliki bisnis sendiri yang dapat menghasilkan nett-income Rp. 5 Juta per-bulan sejak Maret 2009”. ???

Jika ternyata “Self-Image” kita masih berisikan program lama, yaitu : “Saya tidak mungkin dapat berbisnis karena keluarga saya dari 3 generasi semuanya adalah pegawai !”

***

Dari ilustrasi di atas, semoga dapat diperoleh gambaran bahwa seringkali suatu “penciptaan” tidak berhasil hanya dikarenakan tidak memiliki “pijakan” yang cukup stabil !

Loh …. Kalau perlu “pijakan” untuk apa ribut-ribut dengan konsep “LoA” dong ? “LoA” kan di-disain untuk menghasilkan “kejaiban” tanpa sebab ??

Ya, disinilah salah satu catatan perbedaan “LoA” dalam versi saya ! Saya tidak pernah percaya adanya “keajaiban” di alam semesta ini ! Saya lebih mempercayai bahwa semuanya benar-benar akan tunduk dengan “hukum alam semesta”, termasuk hal yang kita anggap “ajaib” sekalipun ! Menurut saya, keajaiban sesungguhnya dari prinsip “LoA” adalah bahwa kita akan mengalami “percepatan” yang luar biasa ketika kita benar-benar menghayati hukum ini ! Ingat “percepatan” adalah sangat berbeda dengan “pengecualian” atau “pelanggaran” ! Percepatan lebih bermakna “lebih cepat memasuki kompetensi untuk selaras dengan hukum alam semesta” !

Memang sih, dalam menerapkan prinsip “LoA” sebagai “gaya hidup” sejak tahun 2003, saya juga cukup sering mengalami kejadian-kejadian “ajaib”, tetapi akhirnya saya pikir lebih positif jika dijadikan saja sebagai “katalis” untuk lebih memasuki penghayatan “LoA”, karena dengan istilah “ajaib”, berarti tetap masih berada “diluar kompetensi saya” alias tidak dijamin bisa diulangi secara tepat ! Seharusnya kita justru dapat me-model hal-hal semacam ini untuk menambah “percepatan” !

Mas Ronny FR pernah menjelaskan kepada saya soal “modelling” (sambil ngobrol soal “onta” dengan Kang Asep), bahwa ada 3 hal kunci dalam modelling, yang singkatnya kira-kira dalam “LoA” ini kita harus menduplikasi “state” saat “melontarkan” materilisasi, belief yang ada, strategi yang diterapkan, sampai ke fisiologi-nya, nah ini semua yang akan mengantarkan kita ke “kompetensi”, alias mampu mengulang-ulang “keajaiban” ! (Bener nggak ya ? Soalnya kuliah-nya Mas Ronny di jam 18.00 tapi satuan waktu Eropa .. he he ..)

***

Dari uraian di atas, maka salah satu obyek penting yang harus dilakukan “Programming” dan “De-Programming” adalah “Self Image”, sebelum kita mem-program berbagai keinginan atau cita-cita besar kita !

SELF IMAGE

Self Image atau “Citra Diri” sama sekali bukanlah realita diri kita sendiri, melainkan hanyalah “cara kita memandang dan menilai diri kita sendiri” ! “A Map is Not The Terittory” !

Self Image acapkali bersifat sangat halus, dan tidak tampak, alias bekerja di tingkat UnConscious. Terkadang kita perlu memasuki “keheningan” terlebih dahulu agar kita dapat “menemukan” Self-Image ini ! Diperlukan “kejujuran” dan lepasnya sang “Ego” untuk “melihat” Self-Image kita sendiri secara benar !

Self Image mirip dengan “selubung” atau “filter pemikiran” yang membungkus diri kita, dimana setiap pemikiran yang “tidak sesuai” dengan “Self Image” ini akan segera “dimatikan”, sedangkan pemikiran yang “sesuai” dengan “Self Image” ini akan “hidup” dan semakin diperkuat !

Contoh :

Ketika kita memiliki “Self Image” : “Saya orang yang tidak menarik !”

Saat kita mencoba berpikir : “Saya di pesta nanti pasti banyak menemukan teman baru !”, maka “Self Image” akan segera “membunuh” pikiran ini, dengan self-talk misalnya : “Ah kamu hanya bermimpi …. orang-orang hanya ingin berkenalan dengan orang yang menarik …. bukan orang seperti kamu yang tidak menarik sama sekali !”.

Tetapi saat kita mencoba berpikir : “Saya di pesta nanti …. pasti seperti biasa .. akan diacuhkan orang ….”, maka “Self Image” akan segera “memperkuat” pikiran ini, dengan self-talk misalnya : “ya .. kamu harus berusaha menahan emosi dan bersabar ….. inilah resiko bagi pribadi yang tidak menarik seperti kamu !”.

Semoga dari ilustrasi yang sederhana ini, kita dapat mulai melakukan “introspeksi diri”, manakah kiranya hal-hal mendasar yang terdapat di dalam “Self-Image” kita yang kiranya sangat tidak mendukung untuk mencapai “kompetensi gaya hidup LoA” ?

Berikut ini beberapa “program” yang kiranya cukup baik dan bersifat umum yang dapat kita masukkan sebagai “infrastruktur LoA” di “Self-Image” kita, sebelum kita menanamkan program-program besar lainnya :

“Tuhan memberikan saya kesempurnaan.”
“Tuhan selalu menuntun saya untuk menemukan kesempurnaan hukum semesta”
“Saya selalu dikaruniai Tuhan YME kemakmuran yang melimpah-ruah”.
“Saya selalu bersyukur terhadap kehidupan”
“Saya berhak untuk meraih kesuksesan”
“Seluruh pikiran, ucapan, dan tindakan saya, selalu membawa saya kepada keberlimpahan”
“Seluruh kebutuhan dan keinginan saya selalu terpenuhi dengan cara yang sangat mudah”
“Saya adalah pribadi yang menarik”
“Saya adalah magnet keberlimpahan”
“Saya adalah pribadi yang cerdas, tangguh, dan bijaksana”

Walaupun contoh-contoh di atas tidak besifat spesifik, akan tetapi jika kita cukup jeli, maka kita tetap dapat menyelaraskannya dengan prinsip : “Well-Formed Outcome” dari NLP, yaitu dengan membuat “target waktu” kapan kiranya program-program ini dapat menjadi “Self-Image” kita atau telah mencapai “kompetensi” dalam pola-pikir bathin kita ? Untuk urusan ini anda boleh “menodong” mas Ronny FR atau mbak Issa Kumalasari untuk meng-convert-nya menjadi “Outcome” sehingga berbagai presupposition ala “LoA” ini dapat ter-install secara permanen dalam diri kita, sehingga dapat menjadi infrastruktur bagi program-program berikutnya !

***

Ok artikel berikutnya akan menyajikan suatu teknik sederhana untuk merubah “Self-Image”

Bersambung ……