pikiran bawah sadar

Servomechanism & Kompetensi

Ringkasan artikel lalu :

Pada akhirnya seluruh yang kita peroleh atau kita dapatkan lebih dikarenakan “kecenderungan-kecenderungan” yang telah melekat dan telah menjadi “pola permanen”, atau disebut dengan “Servomechanism”.

Sehingga fokus kita kini relatif lebih menyempit, yaitu bagaimana “menciptakan” Servomechanism yang “memberdayakan”, dalam arti dapat menciptakan gerakan-gerakan yang membawa kita ke berbagai obsesi dan tujuan dalam kehidupan kita.

***

Membentuk Servomechanism

Sayangnya Servomechanism bukanlah sekedar “buah” dari “keinginan”, jadi tidak penting lagi apa keinginan kita, karena “gerakan sesungguhnya” telah dibentuk oleh Servomechanism ini. Setiap orang pasti ingin “sehat”, tetapi yang seringkali terjadi justru Servomechanism menuju ke wilayah “sakit” ?! Mengapa ? Kenapa ? Ada apa ?

Servomechanism adalah representasi dari vektor atau semacam resultan dari vektor-vektor kesadaran kita, yaitu : Conscious Mind, UnConscious Mind, dan Super-Conscious Mind. Keinginan hanyalah salah satu dari kesadaran kita yaitu Conscious Mind, akan tetapi kekuatan sesungguhnya terletak di UnConscious Mind dan Super-Conscious Mind.

Dalam kalimat yang lebih mudah, Servomechanism sebenarnya merupakan representasi dari “sesuatu” yang telah menjadi “milik” kita, yaitu “Belief System” dan “Self Image”. Baik “Belief System” maupun “Self Image” keduanya merupakan istilah yang menggambarkan “sistem keyakinan” kita. Akan tetapi “Self Image” atau “Citra Diri” lebih menggambarkan “penilaian atau gambaran kita terhadap diri kita sendiri” dan bukannya “diri kita sebenarnya”, identik dengan “The Map is not The Territory” dan “Everyone Lives in Their Own Unique Model of The World” !

***

Dari penjelasan di atas, maka satu-satunya cara untuk memperoleh “Servomechanism Sukses” adalah dengan membentuk terlebih dahulu “Belief System & Self Image Sukses” ! Atau dengan kata lain “sukses” merupakan sesuatu yang telah menjadi “kompetensi” dalam diri kita !

Loh kok jadi kompetensi ? Ya, karena segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita tidak lebih adalah buah dari kompetensi yang kita miliki !

Mereka yang “gampang sakit” pasti karena mereka memiliki “kompetensi tinggi” di bidang “sakit” ! Mereka yang mudah “menjadi kaya raya”, juga pasti memiliki “kompetensi tinggi” di area itu ! Mereka yang mudah sekali “tertimpa sial”, juga karena telah demikian “kompeten” !

Jadi secara sederhana urutannya menjadi :

“Self Image & Belief System” menghasilkan “Kompetensi” menghasilkan “Servomechanism” menghasilkan “Hasil”.

***

Apa sih kompetensi ?

Saya yakin, kita semua para “pembelajar NLP” pasti ingat mengenai “tahapan pembelajaran” manusia yang dibagi atas 4 tahapan kompetensi, dimana dalam definisi baku-nya adalah :

Tahap 1 : Tidak sadar bahwa tidak mampu
Tahap 2 : Sadar bahwa tidak mampu
Tahap 3 : Sadar bahwa mampu
Tahap 4 : Tidak sadar bahwa mampu

Nah kompetensi yang dimaksudkan di pembahasan di atas adalah kompetensi yang telah mencapai Tahap 4, karena kompetensi pada tahap inilah yang membentuk “Servomechanism” yang dimaksud !

Sebagai ilustrasi :

Makan ! Saya yakin bahwa kita seluruh pembaca portal ini pasti “tidak pernah terpikirkan” bahwa besok kita semua mampu “mengadakan” atau “membeli” makan atau tidak ? Dan yang luar biasa bahwa tanpa “sempat berpikir”-pun kita semua besok “hampir dipastikan” akan makan seperti biasanya ! Nah, ini yang disebut dengan “kompetensi” pada tahap yang tertinggi (Tahap 4) !

Maaf, di luar sana, masih sangat banyak saudara kita yang benar-benar harus “secara sadar mengusahakan” makan tersebut agar mereka dapat benar-benar makan ! (Kompetensi Tahap 3). Atau bahkan ada yang benar-benar sudah menyadari bahwa dengan cara apapun mereka besok tidak akan dapat menikmati “makanan” (Kompetensi Tahap 2).

Ilustrasi lain :

Tetapi apakah sebagian besar kita tetap dalam “Kompetensi Tahap 4” ketika kita diminta untuk “menghasilkan” uang sejumlah 1 Milyar dalam waktu 3 hari ?

Lalu apakah perbedaan kompetensi antara “besok makan” dan “ 1 Milyar dalam 3 hari” ? Di lain pihak kitapun meyakini bahwa bagi “Tuhan YME” dan “Alam Semesta” tidak bedanya antara permintaan “besok makan” dan “1 Milyar dalam 3 hari” ! Silakan merenungi ! Ini benar-benar hanya soal kompetensi !

***

Jadi ….. gaya hidup “LoA” adalah soal mengembangkan diri untuk menjadi “kompeten pada tahap tertinggi”, misal “kompetensi untuk menarik keberlimpahan” !

Jadi …… gaya hidup “LoA” adalah soal melenyapkan “kompetensi-kompetensi tahap tertinggi yang bersifat tidak memberdayakan” yang telah menjadi “Belief System & Self Image” kita semua !

Jadi …… gaya hidup “LoA” adalah “hal yang wajar-wajar” saja, dimana untuk ini NLP, Hypnosis, Psychocybernetic, dll. dapat berperan dengan sangat besar untuk “merubah” isi dari “Belief System & Self Image” agar membentuk “kompetensi tertinggi yang bersifat positif” !

Dan, percayalah …. Inilah “kejaiban” sesungguhnya dari “LoA” ! Kompetensi akan “menarik” apapun juga ! Dan saat inilah “The Law of Attraction” akan benar-benar bekerja secara nyata !

***

Lalu kita memulainya dari mana …??
Kita bahas di artikel berikutnya …..

Bersambung ……….

By: Yan Nurindra Category:

Servomechanism

Mari kita lanjut perbincangan mengenai “LoA”, dimana khusus untuk pembahasan “LoA” ini saya memang bertujuan “menyuguhkan”-nya melalui sudut pandang yang berbeda, yang mudah-mudahan dapat “memperkaya” siapapun para peminat teori “LoA”.

Konsep terpenting dari “LoA” adalah “Hukum Ketertarikan” atau “Tarik Menarik”, dan kini saya akan mencoba membahasnya berdasarkan sudut pandang Psychocybernetic-nya Dr. Maxwell.

***

Jika kita coba mengamati dengan seksama, maka pada umumnya “perilaku” kita maupun “apa yang kita sering dapatkan dan temui” biasanya merupakan suatu “pola” atau membentuk suatu “pola kecenderungan”, dan pola ini jika tidak di-intervensi atau mengalami “konversi ekstrim”, maka pola ini cenderung semakin “mapan” dan “semakin kuat”.

Orang yang sering bangun “kesiangan”, maka akan cenderung untuk selalu bangun “kesiangan” dan bilamana sudah menjadi pola permanen, bahkan menjadi sangat “ajaib”, karena perilaku ini benar-benar menemukan “cara”-nya sendiri untuk membuat “kesiangan” ini terjadi.

Orang yang gampang sekali memperoleh “hutang”, pasti disebabkan ia telah melakukannya secara berulang-kali sejak lama, sehingga seakan-akan alam semesta akan mengatakan “ya … dia pantas dan harus diberi hutang” setiap kali ia mengajukan pinjaman. Ini bukan persoalan “baik” atau “buruk”, karena konglomerat pengemplang BLBI-pun pasti sudah memiliki pola ini sejak lama, dan pola ini bertambah kuat dan permanen, sehingga mereka-pun menjadi sangat “sakti” untuk “diberikan hutang” lagi, bahkan pada saat mereka sangat terpuruk sekalipun !

Bagi mereka yang “tidak pernah berhutang”, percayalah mereka ini tetap akan sulit untuk memperoleh pinjaman, bahkan ketika mereka memerlukannya untuk urusan “hidup dan mati” ! Tidak adil ya ?!

Demikian juga mereka yang hidupnya selalu dirundung “penderitaan” dan “sial”, maka percayalah ini telah menjadi “skill” yang sangat terlatih bagi mereka, walaupun pasti mereka tidak menginginkannya !

Tentu saja mereka yang hidup “berkelimpahan” juga ternyata telah memelihara “skill” dan “kecenderungan” ini sejak lama, walaupun dengan “kualitas” dan “kuantitas” yang mungkin berbeda.

Hati-hati jika anda ternyata memiliki kecenderungan untuk “bekerja sangat keras” ! Anda akan “ditarik oleh alam semesta” untuk selalu “bekerja keras” ! Renungkanlah kembali, apakah anda memang menggemari “kerja keras”, atau sebenarnya anda bekerja keras dengan tujuan untuk memperoleh keberlimpahan ? Tetapi jika anda memang benar-benar hobi “bekerja keras”, ya tentu bukanlah suatu masalah !

Mereka yang sering “jatuh sakit”, ternyata telah memiliki “bakat” ini sejak lama, dimulai dengan “sakit-sakit ringan” sampai di kemudian hari mereka menjadi lebih “terlatih” untuk sakit “lebih berat” !

***

Ternyata jika kita amati dengan seksama, semua hal yang kita peroleh dan alami, merupakan bentuk dari suatu “kecenderungan” yang semakin hari semakin kuat !

Inilah yang disebut sebagai “Servomechanism” !

***

Servomechanism atau “mekanisme servo” dapat dijelaskan dengan analogi “penembakan peluru kendali” ! Peluru kendali ditembakkan ke sasaran “nun jauh disana” dengan pengaturan koordinat target yang di-set melalui komputer. Ketika peluru kendali meluncur, maka ia akan bergerak dengan pola gerakan “lurus”, tetapi setiap beberapa mili-detik ia akan “dibelokkan” arahnya oleh pemandu yang telah di-set melalui komputer, dan seterusnya arah ini akan selalu di-“revisi”, dan akhirnya “Blaaaaaar ….!” sasaran-pun diketemukan !

Jadi ketika “target telah dikunci”, maka akan berlangsung gerakan yang selalu di-revisi arahnya secara terus-menerus, sehingga peluru kendali ini “harus mencapai sasaran” !

***

Demikian juga dengan segenap peristiwa kehidupan. Ketika seseorang sudah “dikunci harus mengalami sesuatu”, maka apapun yang dilakukan akan selalu memperoleh revisi dari “alam semesta” yang menyebabkan akhirnya “Blaaaar ….! Ia mengalaminya !”. Atau dalam bahasa yang lebih manusiawi adalah ketika seseorang sudah memiliki kecenderungan atau pola untuk “menjadi sesuatu”, maka dapat dipastikan ia dengan mudah mencapai apa yang dimaksud dengan “menjadi sesuatu” tersebut !

Dengan kata lain, semuanya hanyalah soal kecenderungan !

Cenderung sakit …. cenderung sehat …. cenderung kaya ….. cenderung miskin …. cenderung ditolak …. cenderung diterima …… cenderung memiliki banyak teman ….. cenderung memiliki banyak musuh …. cenderung “menipu” …. cenderung “ditipu” ….!

Dan sekali lagi bahwa “pola” atau “kecenderungan” atau “Servomechanism” ini akan “semakin kuat” jika tidak di-intervensi ! Baik pola baik, maupun pola buruk !

***

Saya mencoba memberanikan diri untuk menganalogikan mengenai apa yang disebut dengan “Takdir” dan “Nasib”, sama sekali bukan berdasarkan pengertian agama, tetapi berdasarkan bahasa “Mind Power” yang menjadi landasan dari “LoA” atau sejenisnya, hanya sekedar untuk memperkaya wacana !

“Ada orang menyeberang rel kereta, dan saat yang sama kereta melaju dengan cepat, ia tertabrak, tubuh-nya hancur lebur, mati !”

Setiap orang yang ditabrak kereta sampai hancur lebur, pasti mati ! Karena hukum semesta yang berlangsung secara sempurna telah terpenuhi. Mungkin ini yang lebih mendekati dengan pengertian “Takdir”, yaitu sesuatu yang telah menjadi “ketetapan”. Disebut juga sebagai “The Alchemy of Universe”, atau hukum “Alkemia Alam Semesta”, atau “Hukum Semesta”.

Tetapi mengapa orang tersebut menyeberang rel kereta tepat di saat kereta tersebut meluncur ? Apalagi anggap saja sebenarnya orang tersebut benar-benar belum siap untuk meninggalkan dunia ? Nah inilah yang mungkin mendekati pengertian dari “Nasib” ! Suatu gerakan, suatu kecenderungan ! Disebut juga sebagai “Servomechanism”.

***

Dan sebagai suatu pola atau kecenderungan, maka “Servomechanism” adalah sesuatu yang benar-benar dapat diubah arahnya ! Tentu dengan usaha dan strategi yang tepat !

Artinya jika saja kita dapat membentuk atau merubah “Servomechanism” kita menjadi Servomechanism “muda foya-foya … tua kaya raya …. hidup sejahtera …. mati masuk surga ….!” kan enak juga tuh ! He … he …..

Lalu Bagaimana cara merubah “Servomechanism” ?

Sebelum kita merubah “Servomechanism”, maka sebaiknya kita memahami terlebih dahulu, perangkat-perangkat manakah dalam diri kita yang membentuk “Servomechanism” ini ?

Kita bahas di Artikel berikutnya …….

Bersambung …

***

Sekedar suatu sumbangan pengetahuan, untuk memperkaya wacana ! Jauh dari kebenaran mutlak, dan sangat boleh diperdebatkan ! Tinggalkan saja bagian yang tidak memberdayakan, dan ambilah bagian yang mungkin memberdayakan !

Maap, jika ada salah-salah kata ! Tabik !

Yan Nurindra Category

“Barang lama kemasan baru !”

Katanya : “pikiran berlimpah” akan “menarik keberlimpahan dalam bentuk riel”.
Katanya : “pikiran sehat” akan “menarik hal-hal yang akan menciptakan kondisi tubuh yang sehat”.
Katanya : “pikiran khawatir” akan “menarik realita yang benar-benar memperkuat kekhawatiran dimaksud”.
Dsb …..

Dikatakan secara sederhana bahwa hal ini dikarenakan pikiran manusia dapat “memancarkan magnet” yang akan menarik kondisi yang bersifat selaras dengan “apa yang dipikirkan”, terlepas pikiran yang dimaksud adalah “baik” atau “buruk” !

Nah disini saya akan memulai …….. melalui teori empiris lainnya yang semoga dapat memperkaya wacana para peminat “Gaya Hidup LoA” !

***

Jauh sebelum Rhonda Byrne ….. bahkan jauh sebelum Maxwell Maltz …… sudah dikembangkan suatu teori “kesadaran manusia” berdasarkan pemahaman empiris, dimana teori ini merupakan bagian dari Teori Parapsikologi atau Psikologi yang ditambah dengan “Para” (kalau nggak salah artinya “disamping”), jadi maksudnya “disamping ilmu Psikologi” … jadi mirip “anak” dan “keponakan” lah …..! Mirip-mirip gituu deee ..!

Teori yang saya baca dari buku “The Magic Power of Your Mind” yang nantinya ternyata memiliki referensi dari “buku kuno” lain lagi, membagi “perangkat kesadaran manusia” menjadi 3 bagian utama, yaitu : (1). Conscious Mind (2). UnConscious Mind, dan (3). Supra-Conscious Mind (atau saya sering juga menyebutnya dengan Super-Conscious Mind.

Conscious Mind
Dapat kita anggap sebagai wilayah dimana kita “berkeinginan”, jadi jika kita “ingin sehat”, “ingin kaya”, nah inilah yang menjadi area dari Conscious Mind.

UnConscious Mind
Dapat kita anggap sebagai tempat dimana segenap perilaku kita berada, juga kecenderungan sikap, dan kontrol otomatis organ tubuh kita (misal detak jantung). Atau secara gampangnya UnConscious Mind berorientasi kepada internal diri kita (fisik, psikologis) atau “internal world”

Super-Conscious Mind
Merupakan kesadaran kita yang dapat “berhubungan” dengan “external word” atau “alam semesta”.

Jika Conscious Mind dan UnConscious Mind lebih sering disebut sebagai bagian dari “otak” kita, atau bersifat “physical”, maka Super-Conscious Mind dapat dianggap sebagai “bagian” atau “extension” dari UnConscious Mind tetapi tidak berada di lapisan “physical” kita, melainkan di lapisan energi, tepatnya adalah “Subtle Energy”, yang mungkin secara tradisional sering juga di-istilahkan sebagai “Chi”, “Ki”, “Manna”, “Huna”, “Barraka”, dsb. (setiap wilayah di muka bumi ini dapat memiliki istilah yang berbeda-beda, note : “territory”-nya sama, “map”-nya beda-beda).

Sebenarnya sih “Super-Conscious Mind” bukanlah “energi” tetapi suatu “kesadaran”, tetapi cara kerjanya “menumpang” di “ray” yang dikenal sebagai “subtle energy”, mirip dengan data (voice) GSM yang “menumpang” di gelombang dengan frekwensi tertentu. Untuk lebih mudah, boleh-lah dianggap bahwa “representasi” dari Super-Conscious Mind ini adalah berupa “Subtle-Energy”.

***

Nah, dari penjelasan sederhana ini mungkin mulai agak “nyambung”, bagaimana sih mekanisme ketika seseorang memberikan “empowerment” ke diri-nya agar “berkelimpahan uang” kemudian dapat benar-benar “menghadirkan uang” ke dalam dirinya ? Dalam hal ini, Conscious Mind adalah pihak yang berkeinginan, kemudian akibat dari “Empowerment” tersebut (jika berlangsung efektif), maka mungkin yang bersangkutan “mendadak” menjadi “rajin”, “netral”, “pintar melihat peluang”, “pintar menilai resiko”, dll, dan ini merupakan kerja dari UnConscious Mind yang bertugas menggerakkan “internal-word” seseorang. Kemudian, mungkin saja yang bersangkutan tiba-tiba secara “ajaib” dipertemukan dengan kondisi-kondisi yang dapat membuatnya benar-benar dapat “mewujudkan” keinginannya tersebut, misalkan “bertemu dengan orang yang tepat di saat yang tepat”. Nah inilah yang merupakan hasil kerja dari “Super-Conscious Mind” yang bermain di area “external word” !

Jadi jika kita berbicara mengenai “The Law of Attraction”, maka mungkin yang dimaksudkan dan diharapkan oleh banyak orang adalah “kesaktian” yang ditimbulkan oleh “Super-Conscious Mind” ini !

***

Dalam berbagai pengetahuan yang berbasiskan esoterisme, soal “mewujudkan sesuatu” atau “goal manifestation” adalah sesuatu yang “biasa”, dan sudah jadi “menu standar” dan tidak “diributkan” atau “dihebohkan” seperti halnya “The Secret” !

Walaupun dengan tata-cara yang “berbeda” dikarenakan “map” yang dipergunakan berbeda, tetapi percayalah bahwa semuanya ternyata sama-sama berbicara terhadap “territory” yang 100% sama !

Contohnya :

Dalam Reiki dikenal istilah “materialisasi” dengan menggunakan misal : bola energi “chokurei”, dengan afirmasi : “saya senang sekali karena memiliki mobil jaguar pada akhir tahun 3017”, lalu bola dibuang, jangan di-ingat-ingat, biarkan berkelana ke alam semesta, membentuk perwujudannya sendiri.

Fenomena Telepati, “Thought Projection”, ESP, merupakan fenomena “subtle energy”, hanya saja di-aplikasikan secara langsung, karena bersifat relatif sederhana. Tidak seperti “konsep keberlimpahan” yang bisa jadi “super-complex” ! Bukan sekedar “siapa” men-telepati “siapa” ?! Ya, jadinya bagusnya “alam semesta” saja yang di-telepati !

Bahkan ilmu pelet, juga menggunakan mantra-mantra yang notabene akan menghasilkan “subtle energy” yang akan men-transmissikan “keinginan sang pemelet” agar memasuki wilayah “rasa” (baca : UnConscious) dari “Sang Sasaran”. Ini contohnya memang agak tidak tepat, tetapi hal yang mirip adalah mereka sama-sama “bermain” di tingkatan “Subtle Energy” yang dapat menghubungkan satu orang dengan lainnya. Bukankah “afirmasi” dalam LoA salah satunya adalah menghadirkan “orang yang tepat pada kesempatan yang tepat” bagi kita ? Lewat mana ? Ya lewat media “Subtle Energy” !

***

Semoga dengan penjelasan dari “sudut yang berbeda” ini akan memberikan pemahaman atau wacana tambahan yang akan membuat “Gaya Hidup LoA” dapat dipandang sebagai sesuatu yang “biasa-biasa” saja dan “sudah ada sejak dulu” ! Apalagi fenomena “LoA”-nya sendiri, tidak usah dipelajari-pun ya sudah ada !

Kemudian, mekanisme “LoA” agar dapat lebih dipahami secara lebih “membumi”, bahwa itu “hanya sekedar” penyelarasan antara “Conscious Mind”, “UnConscious Mind” dan “Super-Conscious Mind” yang dapat menjadi sedemikian “sakti”-nya jika ketiganya dapat berjajar bagaikan 3 buah vektor yang memiliki “arah” yang sama ! “Blaaaaar …! Terjadilah …!” ….. he he ……

Ya disini masalahnya ……., untuk membuat ketiga-nya sejajar ? Susahnya “minta ampun”, perlu ilmu pendukung lain ….. mulai dari NLP, Hypnosis, bahkan mungkin “ilmu kudu” ….. yaitu …. “kudu yakin” ….. “kudu manteb” ……“kudu berhasil” !

Hanya sekedar wacana !

Dan, masih bersambung lagi ………

Maap, jika ada salah-salah kata ! Tabik !

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih terhadap rekan-rekan yang telah memberikan respon, baik secara terbuka, maupun yang langsung mengirimnya melalui email saya, karena mungkin dianggap berisikan hal-hal yang relatif sensitif.

“Gaya Hidup LoA (Law of Attraction)” adalah salah satu pilihan diantara “sekian banyak” pilihan “gaya hidup” lainnya ! Tidak penting lagi dia “benar” atau “salah”, karena memang tidak seorangpun yang dapat “menjamin” kebenarannya ! Yang lebih penting adalah apakah masing-masing “gaya hidup” tersebut dapat “memberdayakan” kita ?

Seringkali bukanlah “gaya hidup”-nya yang “salah” atau “benar”, tetapi konsistensi dalam sikap bathin kita yang seringkali justru menimbulkan masalah besar !

***

Amat sangat banyak cara untuk menghadapi kehidupan, kita sudah sangat akrab dengan berbagai “presupposition” yang berasal dari sumber yang beragam, dari keyakinan, agama, pokok-pokok pemikiran spiritual, dsb !

Kita boleh memilih prinsip : “Kelahiran, jodoh, rejeki, kematian, adalah urusan Tuhan”. Tetapi mengapa seringkali kita “protes” ketika orang yang kita cintai “dipanggil” Tuhan ?

Atau kita memilih prinsip : “Jalan hidup kita telah ditulis sebelum kita lahir”. Tetapi mengapa seringkali kita “tidak menerima” ketika kemiskinan tidak mau beranjak dari kehidupan kita ?

Kita dapat juga memilih : “Nasib suatu kaum tidak akan berubah, jika kaum tersebut tidak merubahnya”. Tetapi mengapa kita protes ke Tuhan ketika nasib kita tidak juga kunjung berubah ? Bukankah lebih berarti bahwa kita yang tidak terampil dalam mengubah nasib ?

Atau kita mengambil pilihan netral, yaitu : “Manusia berusaha, tetapi Tuhan menentukan”. Tetapi mengapa kita tidak serta-merta “merelakan” apapun yang akan menjadi hasilnya ?

Dan ketika kita berprinsip “Semuanya sudah ada takdir-nya”. Mengapa kita masih repot-repot berusaha ? Toh semua sudah takdir ?

***

“Gaya Hidup LoA” hanya merupakan salah satu “pilihan”, dan tetap saja konsistensi bathin menjadi lebih penting ! Gaya hidup ini akan membuat kita benar-benar “bertanggung-jawab penuh” terhadap kehidupan kita sendiri !

Kita adalah Co-Creator untuk “mengerjakan” alam semesta ini, ketika “batu” telah tersedia, maka kita dapat “membangun gedung”, ketika “uap panas” muncul dari dalam bumi, kita dapat membuat “pembangkit listrik”, dan ketika ada “hukum ketertarikan”, maka kita dapat pula menarik “kebahagiaan”, “penderitaan”, bahkan “keberlimpahan” atau “kemiskinan” ! Dan ini bahkan sangat mewakili dari suatu hal yang telah seringkali kita dengar, bahwa manusia adalah “khalifah di muka bumi” atau “pimpinan di muka bumi”. !

***
“Gaya Hidup LoA” mengasumsikan bahwa di alam semesta berlangsung hukum sebab-akibat yang sangat sempurna dan sangat holistik, mulai dari tingkat fisik sampai dengan tingkat non fisik, melintasi layer eksistensi yang tak berhingga.

Sebab Big-Bang maka menyebabkan lahirnya alam semesta fisik ! Sebab lapisan bumi bergeser, maka menyebabkan terjadinya bencana Tsunami ! Sebab pemanasan global maka menyebabkan punahnya Mamooth dan binatang purba lainnya ! Sebab aliran lahar yang sangat spektakuler maka lahirlah pulau-pulau baru di Hawaii ! Hal ini semua menunjukkan berlangsungnya hukum semesta di tingkat fisik yang sangat sempurna !

Dan hukum itu diasumsikan juga berlangsung di tingkat yang lebih murni, di tingkat “transcendental” ! Dan memang benar berlangsung ! Jika kita pernah mempelajari esoterisme, maka kita akan sangat “faham” bahwa selain energi-energi fisik di semesta fisik, juga terdapat energi yang lebih halus di tingkat “ether” yaitu “subtle energy”, yang juga terikat dengan hukum semesta yang tentu saja berlangsung di tingkat “ether” !

Dan bagaimana mengenai manusia ? Ya tentu saja termasuk ! Bahkan manusia memiliki berjuta bentuk, diluar bentuk yang selama ini “kita kenal” dalam kehidupan sehari-hari ! Andaikata anda melihat tubuh saya melalui “Mikroskop Elektron”, maka niscaya anda tidak dapat lagi membedakan manakah “kursi” dan manakah “saya”, semuanya hanyalah kumpulan “elektron” ! Apalagi jika kita melakukan proses “transcendental” lebih jauh lagi, maka anda akan melihat saya sebagai “quantum”. Dan yang sangat menarik, bahwa “quantum” bersifat “chaos”, artinya “quantum” saya akan melesat kesana-kemari dan tidak pernah berada di diri saya secara tetap, atau selalu bertukar, tetapi anehnya “quantum” ini juga bersifat “ordered” yang akan membentuk “entitas” diri saya ! Hii … serem juga ya, karena ternyata saya hanya “benar-benar ada” di dimensi “normal” yang kita kenal, tetapi di dimensi yang “setengah transcendental” saja saya sudah berubah menjadi “quantum” ! Bayangkan jika kita benar-benar “transcendental”, maka kita menjadi “tidak pernah” ada sama sekali !

***

Oke, semoga ilustrasi tadi dapat memberikan gambaran bahwa bentuk murni manusia adalah “tidak pernah ada”, tetapi menggambarkan bahwa sekaligus manusia “ada di-mana-mana” … atau manusia pada tahap tertentu hakikatnya adalah “alam semesta itu sendiri” ! Jadi jelas bahwa jika perdebatan “Gaya Hidup LoA” salah satunya adalah mengenai “apakah benar pikiran dapat bekerja sedahsyat itu ?”, maka saya yakin kini anda dapat menjawabnya sendiri dengan sangat baik !

Wah membingungkan dan malahan membuat makin tidak jelas ? Ya pasti ! Karena kita masih “terbiasa” hanya meng-indera sesuatu yang bersifat fisik, itupun menggunakan sensor berupa panca-indra (VAKGO) !

Deepak Choppra pernah menulis : “Jika anda ingin mengetahui rahasia dunia, maka anda tidak perlu kemana-mana, cukup di kamar saja, bahkan anda cukup diam saja, maka dunia akan membuka segenap topengnya !”

Suatu kalimat yang sederhana, tetapi membutuhkan “pemahaman” dan “kemampuan” untuk memahaminya ! Jika kita mampu melakukan proses “Transcendental”, yaitu menurunkan gelombang otak sampai dengan tingkat yang terendah (NDE Brainwave), tetapi tetap dalam kondisi “Full Awareness”, maka kita akan “mulai memahami” apa yang ditulis oleh Deepak Choppra tersebut ! Kita akan memahami bahwa ada suatu wilayah yang merupakan “Non Sensory Perception World” atau Non VAKGO, yang dulu oleh para tetua kita di Asia Tengah disebut sebagai “Shamballa” atau “Shang-Rilla” ! Atau oleh mbah Marto dari “penghayatan mulat saliro” di solo disebut sebagai “suwung …. wang … wung …!”.

Disinilah awal lahirnya pengertian “The Alchemy of The Universe” atau “The Law of Attracton” atau lain-lainnya yang sejenis alias se-ordo !

***

Dan sekali lagi bahwa “Gaya Hidup LoA” adalah pilihan ! Jika kita tidak nyaman, jangan dipaksakan ! Lebih baik pilih “presupposition” lain yang dapat membuat kita “nyaman” dan “berdaya”, dan yang lebih penting lagi adalah menumbuhkan sikap konsistensi bathin atas pilihan tersebut !

Semuanya benar ! Semuanya dapat memberdayakan ! Kita hanya perlu konsisten !

***

Dan, akhirnya …. semua pendapat, teori, asumsi, atau hipotesa saya ini, masih sangat dapat dan sangat boleh diperdebatkan ! Ada pepatah “Jika anda puas beritahu teman, tapi jika anda kecewa beritahu saya !” …. He he … rumah makan padang …. kaleee …!!

Maap, jika ada salah-salah kata ! Tabik !

By: Yan Nurindra

Saya coba menimpali saja tulisan rekan “Gim Hok” yang ditulis sebelum ini, kerena memang “The Secret” adalah suatu fenomena “luar biasa” ….. “booming” “gempar” pokoknya sekali lagi “rrrrruar biasa” !

Dalam kancah atas nama “motivasi” atau “pemberdayaan diri” …. akhirnya terpolarisasi 2 kubu … antara yang “setuju” dengan fenomena “the secret” … ada pula yang komentar-nya “ah ember aja tuh The Secret” … yang berkelimpahan cuma Rhonda Byrne dengan konco-konco-nya ! Emang nasib orang cuma sekedar “dirasa-rasakan” trus benar bisa “menarik” realita ? Kehidupan kok dianggap “lemper” ..? Penyet sana penyet sini … trus jadi !

He … he … he ….! Trus saya sendiri kubu yang mana tuh ?

Oke, saya adalah kubu yang “mendukung” The Secret ! Tetapi dengan “amat sangat banyak” catatan kaki alias footnote …….

***

Secara pribadi, jalan hidup saya adalah jalan hidup “The Secret” ! Baik kehidupan “rungsep” yang telah saya jalani, kehidupan “agak enak” sampai yang “lumayan enak” bahkan yang sangat “enek” ! Semua cocok-cocok saja dengan kaidah dasar dari The Secret !

***

Napak tilas sebentar ya …….

Saya mulai menyadari kehidupan “The Secret” sekaligus mempelajari fenomena “The Secret” justru mulai bertahun-tahun silam …. tepatnya ketika saya mulai mempelajari Psychocybernetic (Dr. Maxwell) dan juga ketika saya memperoleh suatu buku “kuno” yaitu “The Magic Power of Your Mind” karangan Walter M. Germain, yang diterbitkan pada tahun 1956. Kisah “penemuan buku ini di tukang loak” pun memenuhi prinsip dasar “The Secret”, yaitu “The Law of Attraction” !

Dari pengetahuan-pengetahuan tersebut, Plus dengan “kisah hidup” saya yang “di suatu masa” benar-benar “diselamatkan” oleh sang “Kekuatan Pikiran”, maka saya mendedikasikannya dalam suatu workshop yang saya beri judul “Alpha Power” yang digelar dalam beberapa versi mulai dari tahun 2003 sampai dengan 2007. Bahkan beberapa rekan kontributor di portal sempat bergabung di versi awal dari workshop ini, versi yang masih sangat “premature”. Sekarang workshop sudah di-“anumerta”-kan, karena mulai “melenceng” dari tujuan semula ! Dinamakan sebagai “Alpha Power” karena menyangkut pemberdayaan diri yang sangat luar biasa yang dilakukan cukup di “Alpha Brainwave” ! Yang diberdayakan apa saja ? Semuanya, yang intinya akan menghasilkan yang diistilahkan oleh “The Secret” sebagai “The Law of Attraction” !

Oleh karena itu dengan segenap “kerendahan hati” …. Saya bermaksud untuk “sharing” kepada para “The Secret Mania”, tentu dengan perspektif yang berbeda ….! Sekali lagi hanya “sharing” …. bukan mau “usaha” marketing pelatihan ! Toh “Alpha Power” sudah “anumerta” !

***

Akan tetapi, sebelum Sharing ini benar-benar terjadi, maka terlebih dahulu saya akan melemparkan konsep kesemestaan yang mendasari “The Secret” ! Anda harus memberikan persetujuan atau ketidak setujuan terlebih dahulu !

Prinsip Pertama :

Kita hidup dalam kesempurnaan ! Kita diberikan berbagai “perangkat kesadaran” yang “sangat sempurna” oleh YME, sekaligus alam semesta yang sempurna pula, dengan hukum-hukum yang bersifat tetap dan mengikat segenap penghuninya, hukum ini adalah : “The Alchemy of The Universe” !

Di sini kita mulai masuk ke persimpangan pemikiran yang agak kritis dan sekaligus sensitif …. apakah kita memandang kehidupan dan kesemestaan ini sebagai suatu hubungan “horisontal” atau “vertikal” atau antara “horisontal dan vertikal” ?

Maksud saya, kalau “KeTuhanan” dan “Agama” …. sudah pasti suatu hubungan yang kita tempatkan sebagai hubungan “vertikal”, antara mahluk dan “Khalik”-nya ! Tetapi jika kehidupan dan semesta “tempat kita hidup” kira-kira menurut anda masuk ke wilayah “horisontal” atau “vertikal” atau campurannya tadi ?

The Secret atau sejenisnya, hanya dapat dipahami dan diberlakukan dengan efektif jika anda menempatkan diri anda dan alam semesta dalam suatu “hubungan horisontal” murni yang tunduk dengan “The Alchemy of The Universe” !

Lho ?

Ya, ini menurut saya ! Jadi ini akan melahirkan Prinsip Kedua yang merupakan penjelasan lebih detail dari Prinsip Pertama.

Prinsip Kedua :

“Terima kasih TUHAN, karena KAU telah memberikan aku kesempatan untuk menjalani kehidupan, dan KAU telah memberikan kesempurnaan yang luar biasa bagi diriku, dan KAU karuniakan pula aku alam semesta yang sempurna dengan segenap hukumnya yang sangat sempurna pula, dimana aku dapat berpikir dan berkehendak bebas, tetapi akan tetap dan selalu terikat dengan kesempurnaan hukum alam semesta ini !”

Dari prinsip yang kedua ini, maka sebaiknya jangan pernah lagi kita mengatakan :

“Kenapa ya … saya ini sudah berkelakuan baik, tetapi kok nasib saya semakin hari semakin jelek ?”

“Kenapa ya saya yang sekolahnya rajin, lulus Cum Laude pula ! Tetapi kok teman saya yang sering nyontek dulu … malahan sekarang jadi konglomerat ?”

“Kenapa ya saya sering menyumbang dan berderma, kok tega-teganya perampok menyatroni rumah saya ?”

“Kenapa ya, saya sudah sedemikian rajin beribadah dengan ihlas, kok hidup saya makin terpuruk ?”

Karena pernyataan-pernyataan di atas “tidak akan pernah ada jawabnya” ! Karena kita secara “tidak sadar” telah menempatkan diri kita “sangat rendah”, yaitu hanya sekedar menjadi “obyek” kehidupan ….. dan tentu saja “sangat tidak berdaya” !

Bandingkan dengan Tuan Amin, seorang ahli kimia yang menurut dia sangat ahli dalam membuat sesuatu yang “kimiawi” ! Suatu hari Tuan Amin mencoba membuat pupuk kimia. Nah, setelah campur-sana campur-sini … tiba-tiba “blaaaaaaar” …. boro-boro jadi pupuk …. malahan “mbeledos” jadi “bom kecil” ! Tetapi yang luar biasa, Tuan Amin dengan tenangnya berkata : “Wah, pasti rumusnya salah, atau campurannya kurang pas !” …. he he ….. luar biasa …. karena Tuan Amin walaupun tidak sukses, tetapi menempatkan dirinya sebagai “Subyek” atau Sang “Creator” !

Alam semesta bak kumpulan dari mega-trilyunan unsur kimia, yang melintasi seluruh dimensi energi alam semesta itu sendiri, anda bebas untuk membuat rumus dan mencampur-campurnya ! Salah atau benar soal nanti ! Tidak penting anda memahami atau tidak memahami, tetapi yang jelas andapun kini tengah mencampur-campur unsur-unsur ini pada setiap milidetik dalam hidup anda! Anda adalah Sang Ahli Kimia Alam Semesta ! Anda adalah “Subyek” bagi hidup anda sendiri ! Anda adalah “Sang Alchemist” yang memainkan hidup anda dengan “The Alchemy of The Universe” ! Anda adalah Sang “Creator” bagi hidup anda !

Dari penjelasan yang berazaskan prinsip kedua ini, kita akan memasuki prinsip yang ketiga, yang merupakan konsekwensi logis dari penjelasan ini :

Prinsip Ketiga :

Apapun yang kita peroleh atau alami pada hari ini, baik atau buruk, kebahagiaan atau kesengsaraan, dan berbagai hitam dan putih lainnya. Pasti benar-benar berasal dari formulasi “Sang Alchemist” yang berada dalam diri kita ! Kalau jelek ya namanya “Sang Alchemist” pasti “sedang salah rumus” ….. dan kalau “oke punya”, pasti “Sang Alchemist” memang “pas rumusnya” atau “kebetulan pas” ! Gitu aja kok repot !

Jadi mulai sekarang sebaiknya kita ngomong seperti ini :

Tidak punya uang - “Wah, busyet …. gue pasti pasti mikir apa nih … kok jadinya sekarang nggak punya uang ?”

Dirampok - “Wah, gile beneer …. Pikiran gue pasti ada yang korsleeet nih … kok jadinya rampok jadi demen sama gue ?”

Dapat lotere – “Nah ini dia, ini so pasti pikiran gue yang bekerja dengan sangat canggih ….. kebetulan kali ya ? no way ! Nggak ada tuh kebetulan ! Yang ada cuma gue nggak ingetin rumusnya !”

***

Oke, ini adalah prinsip-prinsip dasar yang harus disepakati bersama terlebih dahulu ! “The Secret” atau “Alpha Power” atau mungkin bagus juga kalau disebut sebagai “Gaya Hidup LoA”, baru dapat “mulai dipelajari” bagi mereka yang total menyetujui “presupposition” ini !

Silakan kirimkan comment “Setuju” or “Tidak Menyetujui ……..!” baru nanti diputuskan apakah artikel perlu “dilanjutkan disini” atau “dilanjutkan disana” ! He … he ….!

Maap, kalau ada salah-salah kata ! Tabik !

tahukah anda?
bahwa
RAHASIA THE SECRET berkaitan erat dengan HATI.
Bila kita mampu menguasai hati maka apapun bisa kita dapatkan.
apakah itu uang, kekayaan, wanita idaman, pria idaman, kendaraan,
rumah mewah, anak dan
bahkan kebahagiaan sejati.

jauh sebelum beredarnya buku dan film the secret, saya telah
menggunakan teknik ini tanpa saya sadari, saya selalu beruntung dan
apa yang saya inginkan sebagian besar selalu terkabul.
bahkan barang yang hilang pun sering kembali pada saya.

namun seiring dengan bertambahnya orang2 dan lingkungan yang kurang
baik, biasanya hati kita ikut terpengaruh menjadi tercemar. sehingga
kekuatan hati bisa berkurang. salah satu cara terbaik untuk menjaga
hati adalah dengan membersihkan hati. hindari orang2 dan lingkungan
negatif dalam artian jangan berlama-lama berada di tempat negatif.
terkadang rumah pun bisa menjadi tempat negatif seperti bila istri
bergosip atau membicarakan orang lain..STOP!! ganti topik pembicaraan
bila ada orang yang memancarkan sinyal negatif. Karena hal itu akan
mempengaruhi pikiran dan hati anda.

Aa Gym pernah berbicara tentang pentingnya menata hati:
seperti dalam lagunya.
Jagalah hati..jangan kau kotori...

Tips Dasar Hidup bahagia adalah dengan menjaga hati agar tetap bersih.
seberapa besar kekayaan seseorang, namun bila hatinya kotor penuh
dengki, iri, benci dll
akan membuat hidupnya tidak bahagia dan tenang.

misalnya seorang yang kaya dari hasil korupsi, maling, atau dari hasil
memamerkan aurat atau kecantikan tubuhnya dll. perbuatan seperti itu
akan mengotori hati sehingga sifat tercela akan mudah masuk kedalam
hatinya.

Orang yang pasti tidak nyaman dalam keluarga, orang yang pasti tidak
tentram dalam bertetangga, orang yang pasti tidak nikmat dalam bekerja
adalah orang-orang yang paling busuk hatinya. Yakinlah, bahwa semakin
hati penuh kesombongan, semakin hati suka pamer, ria, penuh
kedengkian, kebencian, akan habislah seluruh waktu produktif kita
hanya untuk meladeni kebusukan hati ini. Dan sungguh sangat berbahagia
bagi orang-orang yang berhati bersih, lapang, jernih, dan lurus,
karena memang suasana hidup tergantung suasana hati. Di dalam penjara
bagi orang yang berhati lapang tidak jadi masalah. Sebaliknya, hidup
di tanah lapang tapi jikalau hatinya terpenjara, tetap akan jadi
masalah.

Salah satu yang harus dilakukan agar seseorang terampil bening hati
adalah kemampuan menyikapi ketika orang lain berbuat salah. Sebab,
istri kita akan berbuat salah, anak kita akan berbuat salah, tetangga
kita akan berbuat salah, teman kantor kita akan berbuat salah, atasan
di kantor kita akan berbuat salah karena memang mereka bukan malaikat.
Namun sebenarnya yang jadi masalah bukan hanya kesalahannya, yang jadi
masalah adalah bagaimana kita menyikapi kesalahan orang lain.

Sebetulnya sederhana sekali tekniknya, tekniknya adalah tanya pada
diri, apa sih yang paling diinginkan dari sikap orang lain pada diri
kita ketika kita berbuat salah ?! Kita sangat berharap agar orang lain
tidak murka kepada kita. Kita berharap agar orang lain bisa
memberitahu kesalahan kita dengan cara bijaksana. Kita berharap agar
orang lain bisa bersikap santun dalam menyikapi kesalahan kita. Kita
sangat tidak ingin orang lain marah besar atau bahkan mempermalukan
kita di depan umum. Kalaupun hukuman dijatuhkan, kita ingin agar
hukuman itu dijatuhkan dengan adil dan penuh etika. Kita ingin diberik
kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita juga ingin disemangati agar
bisa berubah. Nah, kalau keinginan-keinginan ini ada pada diri kita,
mengapa ketika orang lain berbuat salah, kita malah mencaci maki,
menghina, memvonis, memarahi, bahkan tidak jarang kita mendzalimi ?!

Ah, Sahabat. Seharusnya ketika ada orang lain berbuat salah, apalagi
posisi kita sebagai seorang pemimpin, maka yang harus kita lakukan
adalah dengan bersikap sabar pangkat tiga. Sabar, sabar, dan sabar.
Artinya, kalau kita jadi pemimpin, dalam skala apapun, kita harus siap
untuk dikecewakan. Mengapa? Karena yang dipimpin, dalam skala apapun,
kita harus siap untuk dikecewakan. Mengapa ? Karena yang dipimpin
kualitas pribadinya belum tentu sesuai dengan yang memimpin. Maka,
seorang pemimpin yang tidak siap dikecewakan dia tidak akan siap
memimpin.

Oleh karena itu, andaikata ada orang melakukan kesalahan, maka sikap
mental kita, pertama, kita harus tanya apakah orang berbuat salah ini
tahu atau tidak bahwa dirinya salah ? Kenapa ada orang yang berbuat
salah dan dia tidak mengerti apakah itu suatu kesalahan atau bukan.
Contoh yang sederhana, ada seorang wanita dari desa yang dibawa ke
kota untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ketika hari-hari
pertama bekerja, dia sama sekali tidak merasa bersalah ketika
kran-kran air di kamar mandi, toilet, wastafel, tidak dimatikan
sehingga meluber terbuang percuma, mengapa ? Karena di desanya
pancuran air untuk mandi tidak ada yang pakai kran, di desanya tidak
ada aturan penghematan air, di desanya juga tidak ada kewajiban
membayar biaya pemakaian air ke PDAM, sebab di desanya air masih
begitu melimpah ruah. Tata nilai yang berbeda membuat pandangan akan
suatu kesalahan pun berbeda. Jadi, kalau ada orang yang berbuat salah,
tanya dululah, dia tahu tidak bahwa ini sebuah kesalahan.

kemudian setahap demi setahap, beritahukan dan perbaiki kesalahannya,
agar dia belajar dari kesalahannya.

Beri orang lain 2(dua) kesempatan untuk berbuat salah, yaitu untuk
yang pertama dan yang terakhir.
(prinsip pemimpin sejati)
Dan
ingatlah Hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi
tentram.(Al- Quran)

sebarkanlah kebaikan, jika anda merasa bahagia maka jangan segan untuk
menceritakannya
agar kebaikan yang anda dapatkan bertambah. (salah satu cara bersyukur)
(sombong dan bersyukur berbeda)

barang siapa bersyukur, sungguh akan AKu tambahkan nikmat-Ku kepadamu
namun bila kamu kafir, sesungguhnya AzabKu sangat pedih.

rahasia ini sudah ada sejak zaman dulu, yaitu dalam quran
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan"

itulah sebabnya mengapa banyak orang alim ulama dan para wali selalu
bisa memperoleh apa saja
yang diinginkannya, namun mereka para orang soleh tidak meminta
kehidupan dunia, mereka menginginkan kehidupan akhirat yang baik.
sehingga dikehidupan dunia mereka biasa saja namun tetap bahagia.
padahal mereka bisa mendapatkan kekayaan di dunia jika mereka
menginginkannya.
karena yang penting adalah kebahagiaan di akhirat.
untuk apa di dunia kaya jika di akhirat menderita. Betul ??

misal hari ini anda bisa menikmati makanan enak, namun besoknya anda
sakit sehingga tidak bisa menikmati makanan, maka kenikmatan yang anda
rasakan dihari kemarin pastilah sudah tidak terasa lagi.
begitulah orang yang hanya memikirkan dunia meskipun hidup kaya namun
jika diakhirat menderita, maka semua kenikmatan yang dia rasakan
didunia akan sia-sia. seolah-olah dia tidak pernah merasakan
kenikmatan dunia karena pedihnya siksa neraka.

sebaliknya, orang yang paling menderita di dunia namun rajin beribadah
sehingga msuk surga, maka semua yang dia derita didunia tidak akan
terasa lagi seolah-olah dia tidak pernah menderita sedikitpun didunia
karena nikmatnya surga di akhirat.

seperti yang dikatakan orang bilang, pilih mana
1.awal yang bahagia namun akhirnya menderita atau
2.awalnya menderita akhirnya bahagia, atau
3.atau awalnya menderita akhirnya juga menderita, atau
4.awal yang bahagia dan akhir yang bahagia (the begin and the happy
ending)

mulai sekarang anda bisa menggunakan Hati dan rasa syukur untuk
mendapatkan apapun yang anda inginkan. mulailah dari hal yang kecil
dulu. jika ada pengalaman menarik silahkan berbagi cerita
dengan mengirimkan email kepada saya.

saya tidak menjelaskan lebih rinci cara menggunakan kekuatan ini
dengan anggapan kita sudah mengetahui ilmu dasar dalam menarik
apapun yang diinginkan.

Salam Bahagia

Farhan FH

Dalam buku The Secret karya Rhonda Byrne, ilmu dan praktek pasti bermuara pada dua hal. Yakni, pikiran dan materi. Bahkan, semua karya manusia, baik yang menimbulkan kesejahteraan atau penderitaan, juga berawal dari kedua hal itu. Begitu pentingnya pengaruh pikiran dan materi terhadap kehidupan manusia sehingga perlu ada suatu kejelasan mengenai pengaruhnya agar kebahagiaan tercapai.

Dalam buku itu, hukum alam (law of attraction) dianggap satu-satunya jalan mewujudkan keinginan. Asal memiliki keinginan positif yang kuat dan sanggup memvisualisasikannya, maka semua keinginan akan terwujud. Dengan kata lain, pikiran telah menarik materi seperti magnet menarik benda-benda di sekelilingnya.

Jika ingin rumah yang besar, bayangkanlah, seolah-olah Anda telah tinggal di rumah besar. Jika ingin mobil bagus, bayangkan dan rasakan semua sensasinya seperti telah mengendarai mobil mewah itu. Bahkan, dengan teori ini, Anda boleh memiliki keinginan menjadi kaya seperti Bill Gates. Cukup berkeinginan, visualisasi, dan percaya, maka Anda bisa menjadi Bill Gates.

Sayangnya, realitas kehidupan tidak demikian. Bukti di alam juga tak seperti itu. Jika benar, minimal 50% orang yang duduk di warung kopi adalah Bill Gates. Lagi pula, hati nurani manusia mengenal intisari hukum alam, yakni tak bekerja menurut mimpi. Apalagi menurut visualisasi.
Sejak zaman dulu sampai sekarang dan di masa depan, satu prinsip hukum alam yang pasti bahwa semua fenomena alam ditentukan hukum sebab dan akibat. Mobil berjalan karena ada mesin dan energi yang menggerakkan mesin itu. Pohon menjadi besar karena sumber makanan yang diperoleh berkualitas dan energi lingkungan yang pas.

Begitu pula materi. Kita hanya mungkin memperolehnya kalau ada energi. Betul, seperti ucapan Buddha Gautama, segalanya berawal dari pikiran. Namun, mengutip sedikit perkataan Buddha sungguh berbahaya jika tak menguasai keseluruhan konsepnya.

Mereka lupa, ada dua aspek penting dalam proses penciptaan. Yakni, kemurnian pikiran dan energi untuk mencipta. Kemurnian pikiran dapat diperoleh jika pikiran selaras vibrasinya dengan alam. Dengan kata lain, makin tinggi kemurnian pikiran, makin mirip pikiran itu dengan hukum alam.
Kemurnian pikiran dapat diperoleh lewat berbagai cara. Pertama melalui moral yang baik, pikiran pun menjadi murni. Bersedekah atau beramal, pikiran menjadi makin bersih. Tak berniat merugikan orang lain, maka pikiran menjadi makin bersih. Tak pernah berniat berzinah, maka pikiran jadi kian bersih. Melakukan bakti sosial, maka pikiran jadi kian resik dan tenang. Tak membenci siapa pun dan apa pun, pikiran jadi stabil. Jika semua niat dan aktivitas ini diakumulasikan, maka pikiran jadi termurnikan.

Kedua, penciptaan adalah energi. Jika tak ada energi, pikiran akan padam dengan sendirinya. Ini seperti sebatang kayu kering dengan api. Jika api adalah pikiran, kayu adalah sumber energinya. Jika kayu tak ditambah, api pun padam.
Energi ini dapat diperoleh dengan tiga cara. Yakni, dari makanan, alam, atau lingkungan tempat manusia berpijak. Energi ini disebut dengan chi atau nafas kehidupan yang dapat diurai dalam lima manifestasi atau sering disebut lima elemen. Sebagai contoh, jika kita memakan cabe atau menerima energi api dalam lingkungan kita. Jika banyak minum air, maka tubuh juga akan kelebihan air, dan seterusnya.
Ketiga, kemurnian pikiran. Pikiran yang selaras dengan kemurnian alam semesta adalah pikiran yang penuh energi. Pikiran yang memiliki energi berlimpah akan mengubah diri dalam wujud materi atau apa pun bentuknya sesuai dorongan keinginan.
Yang perlu dipahami, di sini tidak ada attraction atau menarik milik siapa pun. Semua karena diri sendiri. Jika ada satu niat mengambil yang bukan milik kita, maka pikiran menjadi berkurang energinya. Proses penciptaan akan terhenti atau melambat.

Kemudian, proses pikiran menjadi materi dipengaruhi emosi, baik emosi positif maupun negatif. Dua emosi ini berfungsi mengarahkan atau memprioritaskan proses penciptaan.
Semakin besar emosi positif yang muncul atau dirasakan, semakin cepat proses itu terjadi. Tapi, emosi juga merupakan musuh kebahagiaan. Semakin positif emosi, efek ketagihan akan semakin besar. Sedangkan emosi negatif menimbulkan marah. Benci mendorong orang terjebak melebih-lebihkan suatu peristiwa.

Misalnya, seorang yang lagi jatuh cinta. Suatu hari ia tak sengaja menubruk orang yang dia taksir.Kedua belah pihak mengalami benjol di kepala. Yang satu, karena cinta, maka benjol itu tak terasa sakit. Bahkan, mungkin nikmat. “Ini tanda yang bagus buat cinta saya, ini tentu tanda positif. Bakal jadian, nih,” bisiknya dalam hati. Senyum bahagia pun tersungging lebar di bibirnya.
Tapi, sebaliknya, jika yang satunya lagi tak cinta atau membenci, benjol itu akan terasa sangat sakit. Benjolan sama, tapi reaksinya bisa berbeda karena emosi meningkatkan atau menurunkannya.

Karena itu, emosi perlu dipertahankan dalam kondisi seimbang yaitu kita terikat dengan sensasi positif, sekaligus tak ingin menghindar dari emosi negatif.
Kestabilan emosi akan menentukan kualitas kebahagiaan. Makin seimbang, makin bahagia. Sedikit seimbang, sedikit bahagia. Dengan emosi seimbang, proses penciptaan berjalan obyektif sesuai dengan kodratnya. Proses lambat dan cepat tak menimbulkan ketidakbahagiaan. Bahkan pada saat semua tercapai, juga tak memancing ketidakbahagiaan baru yang biasanya muncul akibat mulai memasang keinginan baru.
Yang perlu kita sadari, semua proses penciptaan ini berhubungan dengan kebijaksanaan yang diperoleh. Bukan dari wacana intelektual. Orang dapat berdebat tentang teh manis. Bahkan mungkin bisa menulis puluhan disertasi mengenai hal itu. Akan tetapi satu pengalaman mencicipi teh manis akan mendapat kebijaksanaan seribu kali lebih kuat ketimbang membaca Journal of Teh Manis.

Pun dalam hal penciptaan, materi dan pikiran bukan dibijaki dengan intelektualitas, tapi melalui pengalaman indera. Pikiran harus masuk dalam pengalaman indera dan selanjutnya baru melahirkan kebijaksanaan. Dari situ, kebijaksanaan baru akan lahir sesuai keinginan kita.
Untuk melompat parit kecil, tak perlu ancang-ancang. Tapi jika melalui parit yang lebar, kita perlu mundur beberapa langkah. Makin lebar parit, kita makin mundur. Dalam hidup, prinsip ini berlaku universal. Jika ingin maju besar, harus mundur besar. Jika tak dapat memikul kewajiban besar, tak mungkin mungkin memiliki bisnis besar. Itu sudah hukum alam.
Satu kemunduran yang perlu dilakukan adalah meditasi. Lewat meditasi, tiga keuntungan diperoleh yakni pengalaman indera, kemurnian pikiran, dan energi yang berlimpah.
Jika ditambah dengan fengshui lingkungan yang tepat (meditasi di sektor timur laut), maka level energi akan semakin tinggi. Meditasi vipassana adalah jalan yang tepat untuk memurnikan pikiran dan meningkatkan energi.
sumber: kontan edisi mingguan
penulis: Akino W. Azzaro